kajian agama dan resolusi konflik # Ngelak jangkaran temon kulon progo daerah istimewa yogjakart 55654 # Muqoffa mahyuddin Sag. MHum no hp : 08562884138 # 0812-3238-8096 # pin bb: 522E38B1 # 52171F72
Rabu, Mei 01, 2013
khutbah jum'at
Tauhid Mengangkat Derajat
Dan Martabat Kaum Muslimin
Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg. MHum.
KHUTBAH PERTAMA
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’at.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma'asyirol Muslimin rahimakumullah ...
Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal, menurut tuntunan Islam, tauhidlah yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti. Dan amal yang tidak dilandasi dengan tauhid akan sia-sia, tidak dikabulkan oleh Allah dan lebih dari itu, amal yang dilandasi dengan syirik akan menyengsarakannya di dunia dan di akhirat. Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelum kamu, ‘jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. (Az-Zumar: 65-66)
Hamba Allah yang beriman ...
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan)Nya dan wahdaniyah (keesaan)Nya dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan sifatNya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah, bahkan mengakui keesaaan dan kemahakuasaan Allah dengan permin-taannya kepada Allah melalui Asma dan sifat-Nya. Kaum Jahiliyah Kuno yang dihadapi Rasulullah juga meyakini bahwa pencipta. Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. Sebagaimana Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.” (Luqman: 25).
Namun kepercayaan mereka dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat Muslim, yang beriman kepada Allah. Dari sini lalu timbullah pertanyaan: “Apakah hakikat tauhid itu?”
Hamba Allah, yang beriman ...
Hakikat Tauhid, ialah pemurnian ibadah kepada Allah, yaitu: menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekuen, dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya. Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah. Dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid. Mulai Rasul yang pertama, Nuh, hingga Rasul terakhir, yakni nabi Muhammad n. Sebagaimana firman Allah:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (Adz-Dzariyat: 56).
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (An-Nahl: 36)
Sesungguhnya tauhid tercermin dalam kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Maknanya, tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan tidak ada ibadah yang benar kecuali ibadah yang sesuai dengan tuntunan rasul yaitu As-Sunnah. Orang yang mengikrarkannya akan masuk Surga selama tidak dirusak syirik atau kufur akbar.
Sebagaimana firman Allah:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang, mendapat petunjuk.” (Al-An’am: 82)
Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika ayat ini turun, para sahabat merasa sedih dan berat. Mereka berkata siapa di antara kita yang tidak berlaku dzalim kepada diri sendiri lalu Rasul menjawab:
لَيْسَ ذَلِكَ، إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ، أَلَمْ تَسْمَعُوْا قَوْلَ لُقْمَانَ لاِبْنِهِ: {يَا بُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ}. (متفق عليه).
“Yang dimaksud bukan (kedzaliman) itu, tetapi syirik. Tidak-kah kalian mendengar nasihat Luqman kepada puteranya, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar suatu kedzaliman yang besar.” (Luqman: 13) (Muttafaqun alaih).
Ayat ini memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengesakan Allah. Orang-orang yang tidak mencampur-adukkan antara keimanan dengan syirik serta menjauhi segala perbuatan syirik. Sungguh mereka akan mendapatkan keamanan yang sempurna dari siksa Allah di akhirat. Mereka itulah yang mendapatkan petunjuk di dunia.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah ...
Jika dia adalah seorang ahli tauhid yang murni dan bersih dari noda-noda syirik serta ikhlas mengucapkan “laa ilaaha illallah” maka tauhid kepada Allah menjadi penyebab utama bagi kebahagiaan dirinya, serta menjadi penyebab bagi penghapusan dosa-dosa dan kejahatannya. Sebagaimana telah dijelaskan dalam sabda Rasulullah yang diriwayatkan ‘Ubadah bin Ash-Shamit:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، وَأَنَّ عِيْسَى عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللهُ الْجَنَّهَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ. (رواه البخاري ومسلم).
“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan Muham-mad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah, utusanNya dan kalimat yang disampaikanNya kepada Maryam serta ruh dari padaNya, dan (bersaksi pula bahwa) Surga adalah benar adanya dan Nerakapun benar adanya maka Allah pasti akan memasukkan ke dalam Surga, apapun amal yang diperbuatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maksudnya, segenap persaksian yang dilakukan oleh seorang Muslim sebagaimana yang terkandung dalam hadist tadi berhak memasukkan dirinya ke Surga. Sekalipun dalam sebagian amal perbuatannya terdapat dosa dan maksiat. Hal ini sebagaimana ditegaskan di dalam hadist qudsi, Allah berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتني بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً. (حسن، رواه الترمذي والضياء).
“Hai anak Adam, seandainya kamu datang kepadaKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, sedangkan engkau ketika menemuiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu sedikitpun, niscaya aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi dan Adh-Dhiya’, hadist hasan).
Hadist tersebut menegaskan tentang keutamaan tauhid. Tauhid merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan seorang hamba. Tauhid merupakan sarana paling agung untuk melebur dosa-dosa dan maksiat.
Hamba Allah yang beriman ...
Jika tauhid yang murni terealisasi dalam hidup seseorang, baik secara pribadi maupun jama’ah, niscaya akan menghasilkan buah yang sangat manis. Di antara buah manis yang didapat adalah:
1. Tauhid memerdekakan manusia dari segala per-budakan dan penghambaan kecuali kepada Alah. Memerdeka-kan fikiran dari berbagai khurofat dan angan-angan yang keliru. Memerdekakan hati dari tunduk, menyerah dan menghinakan diri kepada selain Allah Memerdekakan hidup dari kekuasaan Fir’aun, pendeta dan thaghut yang menuhankan diri atas hamba-hamba Allah.
2. Tauhid membentuk kepribadian yang kokoh. Arah hidup-nya jelas, tidak menggantungkan diri kepada Allah. Kepada-Nya ia berdo’a dalam keadaan lapang atau sempit.
Berbeda dengan seorang musyrik yang hatinya terbagi-bagi untuk tuhan-tuhan dan sesembahan yang banyak. Suatu saat ia menyembah orang yang hidup, pada saat lain ia menyembah orang yang mati. Orang Mukmin menyembah satu Tuhan. Ia mengetahui apa yang membuatNya ridla dan murka. Ia akan melakukan apa yang membuatNya ridha, sehingga hati menjadi tentram. Adapun orang musyrik, ia menyembah tuhan-tuhan yang banyak. Tuhan ini menginginkan ke kanan, sedang tuhan yang lainnya menginginkan ke kiri.
3. Tauhid mengisi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan. Tidak merasa takut kecuali kepada Allah. Tauhid menutup rapat celah-celah kekhawatiran terhadap rizki, jiwa dan keluarga. Ketakutan terhadap manusia, jin, kematian dan lainnya menjadi sirna. Seorang Mukmin hanya takut kepada Allah. Karena itu ia merasa aman ketika kebanyakan orang merasa ketakutan, ia merasa tenang ketika mereka kalut.
4. Tauhid memberikan nilai Rohani kepada pemilik-nya. Karena jiwanya hanya penuh harap kepada Allah, percaya dan tawakal kepadaNya, ridha atas qadar (ketentuan) Nya, sabar atas musibah serta sama sekali tak mengharap sesuatu kepada makhluk. Ia hanya menghadap dan meminta kepadaNya. Bila datang musibah ia segera mengharap kepada Allah agar segera dibebaskan darinya. Ia tidak meminta kepada orang-orang mati. Syi’ar dan semboyannya adalah sabda Rasul:
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. (رواه الترمذي وقال حسن صحيح).
Bila kamu meminta maka mintalah kepada Allah. Dan bila kamu memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)
5. Tauhid merupakan dasar persaudaraan dan keadilan. Karena tauhid tidak membolehkan pengikutnya mengambil tuhan-tuhan selain Allah di antara sesama mereka. Sifat ketuhanan hanya milik Allah satu-satunya dan semua manusia wajib beribadah kepadaNya. Segenap manusia adalah hamba Allah dan yang paling mulia di antara mereka adalah Muhammad n kemudian orang yang paling bertaqwa.
Itulah buah manis dari Tauhid yang akan membebaskan pelakunya dari kehinaan dan kesengsaraan dan Tauhidlah yang akan mengembalikan kehormatan Islam dan Muslimin, mengembalikan harga diri dan kemuliaan Islam dan Muslimin, dan menaikkan derajat dan martabat Islam dan Muslimin di atas segala kehinaan yang selama ini dialami oleh kaum Muslimin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua:
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيَّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah ...
Kembali pada khutbah yang kedua ini, saya mengajak diri saya dan jama’ah untuk senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah dengan sesungguhnya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad, kepada para sahabatnya, keluarganya dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Kemudian dari khutbah yang pertama tadi dapat kita tarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukannya.
2. Hakekat Tauhid, ialah pemurnian ibadah kepada Allah, yaitu: meghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen, dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepadaNya.
3. Tauhid menyebabkan pemiliknya dihapuskan dari segala dosa.
4. Tauhid yang terealisasi dalam hidup seseorang, akan menghasilkan buah yang sangat manis, yaitu:
• Tauhid memerdekakan manusia dari segala perbudakan dan penghambaan.
• Tauhid membentuk kepribadian yang kokoh.
• Tauhid mengisi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan.
• Tauhid memberikan nilai ruhiyah kepada pemiliknya.
• Tauhid merupakan dasar persaudaraan dan persamaan.
Karena itu, marilah pada kesempatan kali ini kita berdo’a kepada Allah, memohon ampunan atas segala dosa syirik yang pernah kita lakukan dan kita memohon agar kita dijauhkan dari segala perbuatan syirik dan pelaku-pelakunya. Kemudian pula kita memohon kepada Allah agar kita dihindarkan dari kehinaan dan diangkat derajat kita di dunia dan di Akhirat.
وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Selasa, Oktober 16, 2012
Cara Pemasaran Ayam Kalkun
Masih melanjut seri ayam kalkun nih, kali ini akan saya share mengenai pemasaran ayam kalkun. Cara pemasaran ayam kalkun pertama kali bisa dengan terlebih dahulu menawarkan ke lingkungan terdekat, seperti kawan-kawan dekat. Biasanya dari sana akan banyak yang memesan anakan kalkun. Hal ini akan sangat lebih mudah jika sang kawan tersebut memang suka memelihara unggas. Kemudian bisa dilanjutkan dengan memasarkannya secara online untuk menawarkan secara langsung ke peternak pemula maupun ke sesama peternak senior.
Agar lebih mudah dalam memasarkan ayam kalkun, ada baiknya membentuk kelompok ternak, dari kelompok ternak bisa memasarkan hasilnya ke supplier atau restoran dengan permintaan secara kontinu. Sehingga masalah yang sering dihadapi peternak kecil berupa rutinitas pengiriman bisa teratasi. Hal ini juga bisa menghindarkan para peternak kecil dari himpitan harga para tengkulak.
Bagi anda yang belum terlalu paham cara ternak kalkun, tetap bisa mengawali usaha ini namun dengan modal kecil hanya sekitar Rp.500rb yang digunakan untuk membeli sepasang indukan. Sedangkan jika ingin langsung berbisnis skala sedang, bisa memelihara 10-50 ekor indukan di lahan sekitar 50-200m². Lahan tersebut biasanya digunakan untuk area pemeliharaan berupa ruang terbuka (umbaran), penemparan mesin tetas, kandang kawin, kandang indukan dan kandang anakan.
Kendala dan Resiko
Kendala yang paling dirasakan pelaku terutama untuk penjualan ke luar pulau jawa yaitu pada bagian pengurusan surat jalan. Resiko yang dihadapi jika ada wabah penyakit terutama virus flu burung yang akan sulit penanganannya. Hal ini tentu harus dicegah dengan menjaga kebersihan kandang dan memberi pakan yang cukup serta vitamin. Untuk anakan bisa diberi suplemen seperti vitachik atau suplemen alami, misalnya air gula merah. Kunjungi juga dinas peternakan setempat yang menyediakan vaksin untuk unggas secara gratis. Dan jangan lupa berkonsultasi pada peternak-peternak senior yang lebih berpengalaman.
Rabu, Oktober 10, 2012
bagaimana persyaratan lingkungan yang disukai ikan gurami (grameh)
Gurami termasuk ikan yang mudah untuk dibudidayakan. Ikan ini bisa hidup di sembarang tempat dengan syarat ketersediaan air yang cukup untuk mengisi wadah pemeliharaan (kolam). Meskipun begitu, pemilihan lokasi yang tepat untuk budidaya juga perlu diperhatikan.
Berikut ini beberapa persyaratan lokasi yang baik untuk budidaya ikan gurame agar budidaya gurame makin mudah diterapkan :
Ketinggian Tempat
Lokasi sebaiknya memiliki ketinggian 20-400 m dpl. Pada ketinggian ini pertumbuhan gurame akan optimal. Bila lokasi di atas kisaran tersebut maka pertumbuhan akan lambat.
Suhu
Gurame tumbuh baik di daerah besuhu 25-28 derajat Celsius. Ikan ini sangat peka terhadap perubahan suhu. Lokasi yang perubahan suhunya terlalu ekstrim akan menyebabkan ikan stress. Perubahan suhu dapat dikendalikan dengan pengaturan volume air. Saat cuaca panas, tinggi air dapat ditingkatkan 10-20 cm dari biasanya. Sementara saat hujan atau suhu dingin, tinggi air dapat diturunkan.
Kualitas Air
Kandungan oksigen terlarut (DO) yang dibutuhkan sekitar 7,8 ppm. Derajat keasaman air (pH) yang ideal adalah 6,5-7,0 dengan nilai kesadahan (Hd) 7.
Kadar oksigen yang terlarut sebenarnya tidak terlalu berpengaruh pada gurame, karena gurame memiliki labirin yang berfungsi mengambil udara.
Air dari sungai atau irigasi bisa dipakai untuk budidaya asalkan tidak tercemar limbah pestisida dan limbah rumah tangga. Karena gurame menyukai air bersih. Air yang berasal dari saluran air sebaiknya diendapkan terlebih dahulu karena dikhawatirkan mengandung kotoran. Kotoran yang bercampur dengan sisa pakan akan mengakibatkan pembusukan. Hal ini akan memicu timbulnya bakteri, parasit dan cacing.
Ketersediaan Air
Air yang tersedia untuk budidaya harus terjamin dalam jumlah dan kualitas. Pada musim kemarau, masukan dari pengairan diharapkan masih tersedia sehingga tidak mengganggu kegiatan budidaya. Sementara saat hujan, diusahakan agar air tidak berlebih, agar tidak timbul banjir. Ketersediaan air sangat penting dikarenakan kegiatan pembenihan sangat memerlukan air yang relatif cukup banyak.
Kondisi Lingkungan Sekitar Lokasi
Lahan yang hendak digunakan sebaiknya disesuaikan dengan skal usaha yang dilakukan. Untuk pembenihan atau pembesaran, luas lahan akan berbeda. Sebaiknya, lahan yang akan digunakan jauh dari gangguan berbagai aktivitas yang dapat mengganggu kegiatan budidaya, terutama kawasan pabrik dan industri. Selain itu ketersediaan sarana transportasi dan komunikasi yang memadai juga sangat diperlukan.
Ketersediaan Pakan Gurame
Pakan gurame harus tersedia secara kontinu di lokasi budidaya. Pellet sebagai pakan tambahan dapat didatangkan dari daerah lain. Daun sente sebagai pakan pokok merupakan pakan kegemaran gurame terkadang sulit dicari. Oleh karena itu, sebaiknya para pembudidaya menanamnya di sepanjang pematang kolam.
Selasa, Oktober 09, 2012
bagaimana budidaya ikan gurami ya
1. SEJARAH SINGKAT
Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar,
bagian punggung berwarna merahsawo dan bagian perut berwarnakekuningkuningan/
keperak-perakan. Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae,
keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari
perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia,
Thailands, Ceylon dan Australia. Pertumbuhan ikan gurame agak lambat
dibanding ikan air tawar jenis lain.
Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya gurami, Grameh, orang Sumatra ikan
kalau, kala, kalui, sedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris
menyebutnya “Giant Gouramy”, karena ukurannya yang besar sampai
mencapai berat 5 kg.
2. SENTRA PERIKANAN
Daerah di Indonesia yang menjadi sentra perikanan yaitu: Sumatera, NTB dan
Jawa. Sedangkan di luar negeri yaitu: Thailand, Jepang dan Filipina.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
3. JENIS
Klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:
Klas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy (Lacepede)
Jenis gurami yang sudah dikenal masyarakat diantaranya: gurami angsa,
gurami jepun, blausafir, paris, bastar dan porselen. Empat terakhir banyak
dikembangkan di Jawa Barat, khususnya Bogor. Dibanding gurame jenis lain,
porselen lebih unggul dalam menghasilkan telur. Jika induk bastar dalam tiap
sarangnya hanya mampu menghasilkan 2000-3000 butir telur, porselen mampu
10.000 butir. Karena itu masyarakat menyebutnya sebagai top of the pop, dan
paling banyak diunggulkan.
4. MANFAAT
Sebagai sumber penyediaan protein hewani.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung,
tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat
menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat
pematang/dinding kolam.
2) Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5%
untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
3) Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada
ketinggian 50-400 m dpl.
4) Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam
tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia
beracun, dan minyak/limbah pabrik.
5) Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang
mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan
gurame. Untuk pemeliharaan secara tradisional pada kolam khusus, debit air
yang diperkenankan adalah 3 liter/detik, sedangkan untuk pemeliharaan
secara polikultur, debit air yang ideal adalah antara 6-12 liter/detik.
6) Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
7) Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1) Kolam
Jenis kolam yang umum dipergunakan dalam budidaya ikan gurame antara
lain:
a. Kolam penyimpanan induk
Kolam ini berfungsi untuk menyimpan induk dalam mempersiapkan
kematangan telur dan memelihara kesehatan induk, kolam berupa kolam
tanah yang luasnya sekitar 10 meter persegi, kedalamam minimal 50 cm
dan kepadatan kolam induk 20 ekor betina dan 10 ekor jantan.
b. Kolam pemijahan
Kolam berupa kolam tanah yang luasnya 200/300 meter persegi dan
kepadatan kolam induk 1 ekor memerlukan 2-10 meter persegi
(tergantung dari sistim pemijahan). Adapun syarat kolam pemijahan
adalah suhu air berkisar antara 24-28 derajat C; kedalaman air 75-100
cm; dasar kolam sebaiknya berpasir. Tempatkan sarana penempel telur
berupa injuk atau ranting-ranting.
c. Kolam pemeliharaan benih/kolam pendederan
Luas kolam tidak lebih dari 50-100 meter persegi. Kedalaman air kolam
antara 30-50 cm. Kepadatan sebaiknya 5-50 ekor/meter persegi. Lama
pemeliharaan di dalam kolam pendederan/ipukan antara 3-4 minggu,
pada saat benih ikan berukuran 3-5 cm.
d. Kolam pembesaran
Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan
membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam
pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah
penebaran bibit sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
e. Kolam/tempat pemberokan
Merupakan tempat pembersihan ikan sebelum dipasarkan
Adapun cara pembuatan kolam adalah sebagai berikut:
a. Ukurlah tanah 10 x 10 m (100 m2).
b. Buatlah pematangnya dengan ukuran; bagian atas lebarnya 0,5 m, bagian
bawahnya 1 m dan tingginya 1 m.
c. Pasanglah pipa/bambu besar untuk pemasukan dan pengeluaran air.
Aturlah tinggi rendahnya, agar mudah memasukkan dan mengeluarkan
air.
d. Cangkullah tanah dasar kolam induk agar gembur, lalu diratakan lagi.
Tanah akan jadi lembut setelah diairi, sehingga lobang-lobang tanah akan
tertutup, dan air tidak keluar akibat bocor dari pori-pori itu. Dasar kolam
dibuat miring ke arah pintu keluar air.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
e. Buatlah saluran ditengah-tengah kolam induk, memanjang dari pintu
masuk air ke pintu keluar. Lebar saluran itu 0,5 m dan dalamnya 15 cm.
f. Keringkanlah kolam induk dengan 2 karung pupuk kandang yang
disebarkan merata, kemudian air dimasukkan. Biarkan selama 1 minggu,
agar pupuk hancur dan meresap ke tanah dan membentuk lumut, serta
menguji agar kolam tidask bocor. Tinggi air 0,75-1 m.
2) Peralatan
Alat-alat yang biasa digunakan dalam usaha pembenihan ikan gurame
diantaranya adalah: jala, waring (anco), hapa (kotak dari jaring/kelambu
untuk menampung sementara induk maupun benih), seser, ember-ember,
baskom berbagai ukuran, timbangan skala kecil (gram) dan besar (Kg),
cangkul, arit, pisau serta piring secchi (secchi disc) untuk mengukur kadar
kekeruhan.
Sedangkan peralatan lain yang digunakan untuk memanen/menangkap ikan
gurame antara lain adalah warring/scoopnet yang halus, ayakan
panglembangan diameter 100 cm, ayakan penandean diameter 5 cm, tempat
menyimpan ikan, keramba kemplung, keramba kupyak, fish bus (untuk
mengangkut ikan jarak dekat), kekaban (untuk tempat penempelan telur
yang bersifat melekat), hapa dari kain tricote (untuk penetasan telur secara
terkontrol) atau kadang-kadang untuk penangkapan benih, ayakan
penyabetan dari alumunium/bambu, oblok/delok (untuk pengangkut benih),
sirib (untuk menangkap benih ukuran 10 cm keatas), anco/hanco (untuk
menangkap ikan), lambit dari jaring nilon (untuk menangkap ikan konsumsi),
scoopnet (untuk menangkap benih ikan yang berumur satu minggu keatas),
seser (gunanya= scoopnet, tetapi ukurannya lebih besar), jaring berbentuk
segiempat (untuk menangkap induk ikan atau ikan konsumsi).
6.2. Pembibitan
1) Pemilihan Induk
Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
a. Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
b. Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
c. Ukuran kepala relatif kecil
d. Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.
e. Gerakan normal dan lincah.
f. Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
g. Berumur antara 2-5 tahun.
Adapun ciri-ciri untuk membedakan induk jantan dan induk betina adalah
sebagai berikut:
a. Betina
- Dahi meninjol.
- Dasar sirip dada terang gelap kehitaman.
- Dagu putih kecoklatan.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor hanya bergerak-gerak.
- Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan.
b. Jantan
- Dahi menonjol.
- Dasar sirip dada terang keputihan.
- Dagu kuning.
- Jika diletakkan pada tempat datar ekor akan naik.
- Jika perut distriping mengeluarkan cairan sperma berwarna putih.
2) Pemeliharaan Induk
Induk-induk terpilih (20-30 ekor untuk kolam seluas 10 m2) disimpan dalam
kolam penyimpanan induk. Beri makanan selama dalam penampungan.
Untuk setiap induk dengan berat antara 2-3 kg diberi makanan daun-daunan
sebanyak 1/3 kg setiap hari pada sore hari. Makanan tambahan berupa
dedak halus yang diseduh air panas diberikan 2 kali seminggu dengan
takaran 1/2 blekminyak tanah setiap kali pemberian.
3) Pembenihan
Bila proses pematangan gonada (kandung telur dan sperma) di kolam
penampungan sudah mencapai puncaknya, induk segera dimasukkan dalam
kolam pemijahan. Adapun cara pemijjahan ikan gurame adalah sebagai
berikut:
a. Kolam dikeringkan terlebih dahulu selama 5 hari, perbaiki tanggul dan
dasar kolam.
b. Lakukan pengapuran dan pemupukan. Pemupukan dasar dengan pupuk
kandang dosis 7,5 kg/100 meter persegi dan biarkan selama 3 hari.
c. Tanami dasar kolam dengan tanaman ganggang buntut anjng
d. Isikan air yang telah dicampur dengan pupuk buatan TSP sebantak 500
gram/100 meter persegi, biarkan selama 1 minggu kemudian isikan air
hingga kedalaman 75 cm.
e. Untuk kolam seluas 100 meter persegi bisa disebar induk sebanyak 30
ekor betina dan 10 ekor jantan. Setelah pemijahan berlangsung, 1-2 hari
induk betina akan melepaskan telur-telurnya ke dalam sarang yang
kemudian disemproti sperma oleh si jantan sehingga terjadi pembuahan
sel telur. 20-30 hari kemudian, induk-induk yang terpelihara baik akan
berpijah lagi dan beberapa hari kemudian telur akan menetas.
4) Pemeliharaan Bibit
Benih-benih yang telah berumur 1-2 bulan sejak menetas dapat dibesarkan
pada kolam pendederan atau disawah sebagai penyelang. Dalam
pelaksanaan pendederan adalah melakukan pengeringan kolam atau sawah,
pemupukan, perbaikan pematang dan pemasangan saringan atau perbaikan
pipa-pipa pada pintu pemasukan atau pengeluaran air.
Setelah persiapan selesai, benih ditebarkan dengan kepadatan 30
ekor/meter persegi dengan ukuran benih 5-10 cm pada kolam pendederan.
Makanan yang dapat diberikan selama pemeliharaan adalah rayap atau
daun-daunan yang telah dilunakkan dengan dosis 20-30% berat badan ratarata.
Makanan tambahan berupa dedak halus yang diseduh air panas
diberikan 1 kali seminggu dengan takaran 1 blek minyak tanah untuk 100
ekor benih. Lamanya pendederan sekitar 1-2 bulan.
6.3. Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemeliharaan pembesaran dapat dilakukan secara polikultur maupun
monokultur.
a) Polikultur
Ikan gurame dipeliharan bersama ikan tawes, ikan mas, nilem, mujair atau
lele. Cara ini lebih menguntungkan karena pertumbuhan ikan gurame
yang cukup lambat.
b) Monokultur
Pada pemeliharaan gurame tersendiri, bibit yang disebar minimal harus
berumur 2 bulan. Penebaran bibit sejumlah 500 ekor (ukuran 10-15 cm)
diperlukan luas kolam sekitar 1500 meter persegi
2) Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan bahan kimia dan pupuk kandang. Pada
umumnya pemupukan hanya dilakukan 1 kali dalam setiap pemeliharaan,
dengan maksud untuk meningkatkan makanan alami bagi hewan peliharaan.
Tahap pertama pemupukan dilakukan pada waktu kolam dikeringkan. Pada
saat ini pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang sebanyak 7,5 kg untuk
tiap 100 m2 kolam, air disisakan sedikit demi sedikit sampai mencapai
ketinggian 10 cm dan dibiarkan selama 3 hari.
Pada tahap berikutnya pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk
buatan seperti TSP atau pupuk Urea sebanyak 500 gram untuk setiap 100
m2 kolam. Pemberian kedua pupuk tersebut ditebarkan merata ke setiap
dasar dan sudut kolam.
3) Pemberian Pakan
Makanan pokok ikan gurame berupa pelet yang dapat diatur gizinya, namun
di daerah yang agak sulit memperoleh pelet, daun-daunan merupakan
alternatif yang sangat baik untuk dijadikan makanan ikan, diantaranya: daun
pepaya, keladi, ketela pohon, genjer, kimpul, kangkung, ubi jalar, ketimun,
labu dan dadap.
Pemberian makanan yang teratur dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi
dapat meningkatkan pertumbuhan tubuh ikan lebih cepat. Induk-induk
gurame yang sehat dan terjamin makanannya dapat dipijahkan dua kali
setahun berturut-turut selama 5 tahun.
4) Pemeliharaan Kolam/Tambak
Setiap habis panen, kolam dibersihkan/kuras. setelah itu dilakukan
pemupukan agar mempengaruhi kesuburan kolam, sehingga bila benih
disebarkan, kesuburan ikan akan terjamin dan pertumbuhan ikan akan cepat.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Penyakit
Gangguan yang dapat menyebabkan matinya ikan adalah penyakit yang
disebut penyakit non parasiter dan penyakit yang disebabkan parasit.
Gangguan-gangguan non parasiter bisa berupa pencemaran air seperti adanya
gas-gas beracun berupa asam belerang atau amoniak; kerusakan akibat
penangkapan atau kelainan tubuh karena keturunan. Penanggulangannya
adalah dengan mendeteksi keadaan kolam dan perilaku ikan-ikan tersebut.
Memang diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk
mengetahuinya. ikan-ikan yang sakit biasanya menjadi kurus dan lamban
gerakannya.
Gangguan lain yang berupa penyakit parasiter, yang diakibatkan oleh bakteri,
virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Bila ikan terkena penyakit
yang disebabkan parasit, dapat dikenali sebagai berikut:
1) Penyakit pada kulit; pada bagian-bagian tertentu berwarna merah terutama
di bagian dada, perut dan pangkal sirip.
2) Penyakit pada insang; tutup insang mengembang. Lembaran insang menjadi
pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu
3) Penyakit pada organ dalam; perut ikan membengkak, sisik berdiri.
Pencegahan timbulnya penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat ikan
dan melakukan penjemuran kolam beberapa hari agar parasit pada segala
stadium mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan
pinset.
Pengobatan bagi ikan-ikan yang sudah cukup memprihatikan keadaannya,
dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia diantaranya:
1) Pengobatan dengan Kalium Permanganat (PK)
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
a. Sediakan air sumur atau sumber air lainnya yang bersih dalam bak
penampungan sesuai dengan berat ikan yang akan diobati.
b. Buat larutan PK sebanyak 2 gram/10 liter atau 1,5 sdt/100 l air.
c. Rendam ikan yang akan diobati dalam larutan tersebut selama 30-60
menit dengan diawasi terus menerus.
d. Bila belum sembuh betul, pengobatan ulang dapat dilakukan 3 atau 4 hari
kemudian.
2) Pengobatan dengan Neguvon. Ikan direndam pada larutan neguvon dengan
2-3,5% selama 3 mernit. Untuk pembe-rantasan parasit di kolam, bahan
tersebut dilarutkan dalam air hingga konsentrasi 0,1% Neguvon lalu
disiramkan ke dalam kolam yang telah dikeringkan. Biarkan selama 2 hari.
3) Pengobatan dengan garam dapur. Hal ini dilakukan di pedesaan yang sulit
mendapatkan bahan-bahan kimia. Caranya: (1) siapkan wadah yang diisi air
bersih. setiap 100 cc air bersih dicampurkan 1-2 gram (NaCl), diaduk sampai
rata; (2) ikan yang sakit direndam dalam larutan tersebut. Tetapi karena obat
ini berbahaya, lamanya perendaman cukup 5-10 menit saja. (3) Setelah itu
segera ikan dipindahkan ke wadah yang berisi air bersih untuk selanjutnya
dipindahkan kembali ke dalam kolam; (4) pengobatan ulang dapat dilakukan
3-4 hari kemudian dengan cara yang sama.
7.2. Hama
Bagi benih gurame musuh yang paling utama adalah gangguan dari ikan
liar/pemangsa dan beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, gurame dan
sepat. Musuh lainnya adalah biawak, katak, ular dan bermacam-macam burung
pemangsa.
8. PANEN
8.1. Penangkapan
Pemanenan benih dapat dilakukan setelah benih berumur 1 bulan. Caranya
dengan menyurutkan air sedikit demi sedikit sementara saluran air masuk
diperkecil. Pasanglah jaring lembut di pintu pengeluaran untuk menampung
benih atau bisa juga dengan membuat parit di tengah kolam menuju ke lubang
pengeluaran. Bibit yang terawat baik bisa mencapai bobot 0,3 gram/ekor pada
saat dipanen.
Pemanenan hasil pembesaran ikan gurame sangat tersantung dari ukuran yang
diminta konsumen. Umumnya pemanenan dilakukan setelah ikan berumur 2-3
tahun, ikan yang berumur 2 tahun mempunyai panjang sekitar 25 cm dan berat
0,3 kg/ekor, sedangkan untuk ikan yang berumur 3 tahun panjangnya sekitar 35
cm dan berat badan 0,7 kg/ekor. Untuk ikan berumur 4 tahun panjangnya dapat
mencapai 40 cm dan berat 1.5 kg/ekor. Adapun cara penangkapan: air
disurutkan sedikit demi sedikit, penangkapan dilakukan pada pagi hari. Hindari
cara penangkapan yang dapat menyebabkan ikan terluka.
8.2. Pembersihan
Setelah air kolam surut, benih digiring masuk ke petak kecil. Kemudian diserok
dan dimasukkan ke dalam keranjang panen. Biasanya waktu panen tidak hanya
gurame saja yang tertangkap, sehingga sebelum ikan dimasukkan ke kolam
pemberokan, harus diseleksi dan dibersihkan terlebih dahulu. Pembersihan
benih dilakukan selama 1 hari. tujuannya agar ikan tidak mabuk sewaktu
diangkut ke pasar. Lamanya pembersihan disesuaikan dengan besarnya benih.
9. PASCAPANEN
1) Penanganan ikan hidup
Adakalanya ikan konsumsi ini akan lebih mahal harganya bila dijual dalam
keadaan hidup. Hal yang perlu diperhatikan agar ikan tersebut sampai ke
konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20 derajat
b. Waktu pengangkutan hendaknya pada pagi hari atau sore hari.
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
2) Penanganan ikan segar
Ikan segar mas merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang
perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak luka.
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak
dekat (2 jam perjalanan), dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan
daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dan
seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi
kotak maksimum 50 cm.
3) Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C.
Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan
jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian
ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es
lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian
juga antara ikan dengan penutup kotak.
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pananganan pascapanen
benih adalah sebagai berikut:
1) Benih ikan harus dipilih yang sehat yaitu bebas dari penyakit, parasit dan
tidak cacat. Setelah itu, benih ikan baru dimasukkan ke dalam kantong
plastik (sistem tertutup) atau keramba (sistem terbuka).
2) Air yang dipakai media pengangkutan harus bersih, sehat, bebas hama dan
penyakit serta bahan organik lainya. Sebagai contoh dapat digunakan air
sumur yang telah diaerasi semalam.
3) Sebelum diangkut benih ikan harus diberok dahulu selama beberapa hari.
Gunakan tempat pemberokan berupa bak yang berisi air bersih dan dengan
aerasi yang baik. Bak pemberokan dapat dibuat dengan ukuran 1 m x 1 m
atau 2 m x 0,5 m. Dengan ukuran tersebut, bak pemberokan dapat
menampung benih ikan mas sejumlah 5000–6000 ekor dengan ukuran 3-5
cm. Jumlah benih dalam pemberokan harus disesuaikan dengan ukuran
benihnya.
4) Berdasarkan lama/jarak pengiriman, sistem pengangkutan benih terbagi
menjadi dua bagian, yaitu:
a. Sistem terbuka
Dilakukan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat atau tidak
memerlukan waktu yang lama. Alat pengangkut berupa keramba. Setiap
keramba dapat diisi air bersih 15 liter dan dapat untuk mengangkut sekitar
5000 ekor benih ukuran 3-5 cm.
b. Sistem tertutup
Dilakukan untuk pengangkutan benih jarak jauh yang memerlukan waktu
lebih dari 4-5 jam, menggunakan kantong plastik. Volume media
pengangkutan terdiri dari air bersih 5 liter yang diberi buffer
Na2(hpo)4.1H2O sebanyak 9 gram. Cara pengemasan benih ikan yang
diangkut dengan kantong plastik: (1) masukkan air bersih ke dalam
kantong plastik kemudian benih; (3) hilangkan udara dengan menekan
kantong plastik ke permukaan air; (3) alirkan oksigen dari tabung dialirkan
ke kantong plastik sebanyak 2/3 volume keseluruhan rongga
(air:oksigen=1:2); (4) kantong plastik lalu diikat. (5) kantong plastik
dimasukkan ke dalam dos dengan posisi membujur atau ditidurkan. Dos
yang berukuran panjang 0,50 m, lebar 0,35 m, dan tinggi 0,50 m dapat
diisi 2 buah kantong plastik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan setelah benih sampai di tempat tujuan
adalah sebagai berikut:
1) Siapkan larutan tetrasiklin 25 ppm dalam waskom (1 kapsul tertasiklin dalam
10 liter air bersih).
2) Buka kantong plastik, tambahkan air bersih yang berasal dari kolam
setempat sedikit demi sedikit agar perubahan suhu air dalam kantong plastik
terjadi perlahan-lahan.
3) Pindahkan benih ikan ke waskom yang berisi larutan tetrasiklin selama 1-2
menit.
4) Masukan benih ikan ke dalam bak pemberokan. Dalam bak pemberokan
benih ikan diberi pakan secukupnya. Selain itu, dilakukan pengobatan
dengan tetrasiklin 25 ppm selama 3 hari berturut-turut. Selain tetrsikli dapat
juga digunakan obat lain seperti KMNO4 sebanyak 20 ppm atau formalin
sebanyak 4% selama 3-5 menit.
5) Setelah 1 minggu dikarantina, tebar benih ikan di kolam budidaya.
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1.Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya ikan gurame untuk 6 empang selama 1 bulan di
daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya produksi
a. Sewa lahan 6 empang @ Rp. 80.000,-/bulan Rp. 480.000,-
b. Benih per empang 4000 ekor @Rp 150,- Rp. 3.600.000,-
c. Pakan
- Postal per empang 7 karung @ Rp 10.000,- Rp. 420.000,-
- Rambo per empang 5 karung @ Rp 2.500,- Rp. 75.000,-
d. Obat
- Super tetra per empang 2 tablet @ Rp 1.000,- Rp 12.000,-
e. Tenaga kerja 2 OH @ Rp 20.000,- Rp. 40.000,-
f. Lain-lain (pemeliharaan) Rp. 460.700,-
Jumlah biaya produksi Rp. 5.089.700,-
2) Penerimaan per empang 4000 ekor @ Rp. 400,- Rp. 9.600.000,-
3) Keuntungan Rp. 4.510.300,-
4) Parameter kelayakan usaha
B/C Rasio = 1,89
10.2.Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya ikan gurame, mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi.
disamping rasanya yang lezat dan empuk, ikan ini pun digemari banyak orang.
Sudah menjadi tradisi dalam setiap kendurian, ikan gurame selalu menjadi
syarat utama hidangan. Disamping rasanya itu, perawatannya pun tidak terlalu
sulit dan tidak memakan banyak biaya, sehingga banyak petani ikan yang mulai
menggemari, membudidayakan ikan ini, karena harga dari setiap bibitnya yang
murah dapat menghasilkan keuntungan 3 kali lipat dari harga bibit. Harga dari
ikan gurame di pasaran sangat bervariasi tergantung dari bobot ikan tersebut.
Ikan gurame dengan berat 1,5 kg dapat mencapai harga Rp 26.000-Rp 29.000
tergantung keadaan pada saat itu.
Selasa, Agustus 16, 2011
introducong of sufisme
Introducing of sufisme
Sufisme atau tasawwuf merupakan jalan filosofi Islam yang toleran, mistis, dan universal. Pesan sulh-i-kul, damai dengan semua, membuat Sufisme bisa diterima baik oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim. Sufisme memiliki daya tarik bagi seluruh sekte dan kelas-kelas sosial Muslim. Orang hanya perlu mengunjungi kuil – kuil, atau zawiyah – zawiyah, atau tekke – tekke seperti kuil suci di Ajmer India dan mengamati arak – arakan para pengunjung Muslim dan non-Muslim untuk membuktikannya. Sufi melihat keesaan Tuhan, tauhid pada segala sesuatu, pada setiap orang. Meskipun dalam bentuk bentuknya yang vulgar dan lebih populer. Sufisme telah menampung praktik-praktik janggal yang tidak islami. Hakikat ajaran ini murrni berasal dari pribadi Nabi sendiri. Pertama-tama sufi harus menguasai, jalan kebenaran Islam, sebelum melangkah kepada tarekat, jalan sufi.
Para guru sufi merupakan tokoh sentral bagi para murid meeka dalam membantu menyingkap berbagai misteri serta ajaran Sufisme. Fungsi pertama dan utama seorang guru sufi adalah apa yang disebut penghancur ego, yaitu menekan ego individual untuk mengutamakan keagungan Tuhan. Untuk mendukung penghancuran ego ini, berbagai latihan dilakukan, yang sebagian besar tampak janggal bagi orang awam. Banyak kisah tentang bagaimana para guru sufi memberi perintah pada murid murid mereka. Ada dongeng-dongeng tentang para pangeran yang memasuki kalangan sufi kemudian diperintahkan untuk membersihkan kakus.
Pada berbagai hal yang berbau sufisme, banyak lapisan makna yang terdapat di bawah permukaannya. Gagasan pertamanya adalah menghancurkan kemudian membentuk pencari kebenaran sebelum tarekat dapat dipahami. Praktik-praktik esoterik ini memungkinkan para sufi untuk dapat bertahan di saat yang berat, bahkan saat mengalami penganiayaan. Salah satu praktik seperti itu adalah ritual zikir, menyebut nama Allah. Setiap nama dari ke-99 nama Tuhan diketahui memiliki satu kualitas khusus. Mengucapkan dan mengulang-ulang nama itu dengan cara khusus melahirkan suatu kondisi spiritual pada diri orang yang beriman. Zikir membuat Islam bertahan di Asia Tengah selama masa pahit kekuasaan Uni soviet.
Doa berikut merangkum semangat sufisme. Doa ini berasar dari ordo (thoriqoh) Naqsabaniah yang didirikan Bahauddin Naqsabandi, orang suci dari Bukhara, yang hidup di abad keempat belas. Rentang Islam yang universal jelas terlihat, doa ini bisa menjadi doa bagi agama apapun, di mana pun di dunia:
Tuhanku, betapa lembut Engkau terhadap ia yang melawan-Mu; betapa dekat Engkau pada ia yang mencari-Mu, betapa belas kasih kepada ia yang meminta kepada-Mu, betapa baik pada ia yang menyandarkan harapannya pada-Mu.
Siapa pun dia yang meminta kepada-Mu lalu Engkau menolaknya atau siapa yang mencari perlindungan-Mu lalu engkau menghianatinya dan mendekat kepada-Mu lalu Engkau menjauhinya? Dan berlari kepada-Mu lalu Engkau menolakkannya?
Semangat sufi yang toleran dan dapat diterima semua pihak tidaklah mengherankan kalau kita menengok sumber inspirasi mereka. Meskipun Nabi merupakan teladan tertinggi mereka, tokoh-tokoh spiritual lain-termasuk Ibrahim, Musa, dan Yesus-juga mencetak mereka. Hal ini diungkapkan dalam “Delapan Karakteristik Sufi” yang ditulis guru sufi terkenal, Junaid dari Bagdad:
Dalam Sufisme, delapan kualitas harus dilatih, sufi memiliki: Kebebasan seperti yang dimiliki Ibrahim; Penerimaan atas apa yang menjadi bagiannya seperti Ismail telah menerima bagiannya; Kesabaran yang dicontohkan Yakub; Kemampuan untuk berkomunikasi dengan simbolisme, seperti dalam kisah Zakaria; Pemisahan dari masyarakatnya sendiri, seperti dialami Yunus; jaket bulu domba seperti mantel penggembala milik Musa; Melakukan perjalanan, seperti perjalanan yang diakukan Yesus; Kerendahan hati seperti Muhammad SAW. dengan kerendahan jiwanya.
Pesan sufisme mengenai kasih sayang, kerendahan hati dan cinta universal sangat menarik dan mendatangkan banyak ilham. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh kaum muda masa kini yang tenggelam dalam lingkungan urban materialis dimana televisi dan internet telah tampil sebagai pemberi input terbesar sebagaimana mengenai Sufisme? Bagaimana mereka akan memahami kisah-kisah sufi?
Kisah berikut ini berasal dari matsnawi terkenal karya guru sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi, menggambarkan hal di atas. Seorang murid yang mencari jalan sufi akhirnya merasa bahwa ia telah menguasainya dan datang untuk mengatakannya kepada sang guru. Ia mengetuk pintu dan ditanya ‘Siapa? Menjawab Saya. Sang guru mengatakan, ’Pergilah, kamu belum mendapatkan pengetahuan”. Sang murid pun pergi untuk kembali setelah melakukan lebih banyak lagi latihan-latihan spiritual, dan kali ini kita ditanya siapa mengetuk pintu ia menjawan “Engkau” . “Masuklah”, kata sang guru.”Tidak cukup tempat bagi dua aku di rumah ini”.
Kisah sufi ini menggambarkan lapisan lapisan pemahaman yang terkandung dalam sufisme: penghancuran ego, kebutuhan akan guru sufi yang akan membantu pencarian pengetahuan sepanjang jalan Tuhan, dan pencarian jalan kebenaran, Jalan Tuhan, bagaimanapun esoterisnya. Kisah-kisah ini adalah kiasan, metafor cerita dama cerita. Seperti lapisan dalam bawang kisah-kisah ini memerlukan kesabaran dalam pengupasannya; kisah kisah ini terkadang berakhir dalam air mata.
Sufisme tidak diharapkan bisa populer atau dipahami massa yang didominasi oleh media, oleh propaganda, oleh analisis yang dangkal, oleh kegaduhan dan hantaman berbagai suara dan oleh sikap tidak hormat yang sinis. Zaman kita menuntut pahlawan-pahlawan sederhana - seperti Superman , James Bond, Indiana Jones, Iron Man, Batman. Tema-tema yang mengingatkan kita pada ketidakmantapan hidup di bumi, yang menunjukkan berbagai misteri keberadaan, kompleksitas kemenjadian, tidak siap untuk diterima.
Sufisme atau tasawwuf merupakan jalan filosofi Islam yang toleran, mistis, dan universal. Pesan sulh-i-kul, damai dengan semua, membuat Sufisme bisa diterima baik oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim. Sufisme memiliki daya tarik bagi seluruh sekte dan kelas-kelas sosial Muslim. Orang hanya perlu mengunjungi kuil – kuil, atau zawiyah – zawiyah, atau tekke – tekke seperti kuil suci di Ajmer India dan mengamati arak – arakan para pengunjung Muslim dan non-Muslim untuk membuktikannya. Sufi melihat keesaan Tuhan, tauhid pada segala sesuatu, pada setiap orang. Meskipun dalam bentuk bentuknya yang vulgar dan lebih populer. Sufisme telah menampung praktik-praktik janggal yang tidak islami. Hakikat ajaran ini murrni berasal dari pribadi Nabi sendiri. Pertama-tama sufi harus menguasai, jalan kebenaran Islam, sebelum melangkah kepada tarekat, jalan sufi.
Para guru sufi merupakan tokoh sentral bagi para murid meeka dalam membantu menyingkap berbagai misteri serta ajaran Sufisme. Fungsi pertama dan utama seorang guru sufi adalah apa yang disebut penghancur ego, yaitu menekan ego individual untuk mengutamakan keagungan Tuhan. Untuk mendukung penghancuran ego ini, berbagai latihan dilakukan, yang sebagian besar tampak janggal bagi orang awam. Banyak kisah tentang bagaimana para guru sufi memberi perintah pada murid murid mereka. Ada dongeng-dongeng tentang para pangeran yang memasuki kalangan sufi kemudian diperintahkan untuk membersihkan kakus.
Pada berbagai hal yang berbau sufisme, banyak lapisan makna yang terdapat di bawah permukaannya. Gagasan pertamanya adalah menghancurkan kemudian membentuk pencari kebenaran sebelum tarekat dapat dipahami. Praktik-praktik esoterik ini memungkinkan para sufi untuk dapat bertahan di saat yang berat, bahkan saat mengalami penganiayaan. Salah satu praktik seperti itu adalah ritual zikir, menyebut nama Allah. Setiap nama dari ke-99 nama Tuhan diketahui memiliki satu kualitas khusus. Mengucapkan dan mengulang-ulang nama itu dengan cara khusus melahirkan suatu kondisi spiritual pada diri orang yang beriman. Zikir membuat Islam bertahan di Asia Tengah selama masa pahit kekuasaan Uni soviet.
Doa berikut merangkum semangat sufisme. Doa ini berasar dari ordo (thoriqoh) Naqsabaniah yang didirikan Bahauddin Naqsabandi, orang suci dari Bukhara, yang hidup di abad keempat belas. Rentang Islam yang universal jelas terlihat, doa ini bisa menjadi doa bagi agama apapun, di mana pun di dunia:
Tuhanku, betapa lembut Engkau terhadap ia yang melawan-Mu; betapa dekat Engkau pada ia yang mencari-Mu, betapa belas kasih kepada ia yang meminta kepada-Mu, betapa baik pada ia yang menyandarkan harapannya pada-Mu.
Siapa pun dia yang meminta kepada-Mu lalu Engkau menolaknya atau siapa yang mencari perlindungan-Mu lalu engkau menghianatinya dan mendekat kepada-Mu lalu Engkau menjauhinya? Dan berlari kepada-Mu lalu Engkau menolakkannya?
Semangat sufi yang toleran dan dapat diterima semua pihak tidaklah mengherankan kalau kita menengok sumber inspirasi mereka. Meskipun Nabi merupakan teladan tertinggi mereka, tokoh-tokoh spiritual lain-termasuk Ibrahim, Musa, dan Yesus-juga mencetak mereka. Hal ini diungkapkan dalam “Delapan Karakteristik Sufi” yang ditulis guru sufi terkenal, Junaid dari Bagdad:
Dalam Sufisme, delapan kualitas harus dilatih, sufi memiliki: Kebebasan seperti yang dimiliki Ibrahim; Penerimaan atas apa yang menjadi bagiannya seperti Ismail telah menerima bagiannya; Kesabaran yang dicontohkan Yakub; Kemampuan untuk berkomunikasi dengan simbolisme, seperti dalam kisah Zakaria; Pemisahan dari masyarakatnya sendiri, seperti dialami Yunus; jaket bulu domba seperti mantel penggembala milik Musa; Melakukan perjalanan, seperti perjalanan yang diakukan Yesus; Kerendahan hati seperti Muhammad SAW. dengan kerendahan jiwanya.
Pesan sufisme mengenai kasih sayang, kerendahan hati dan cinta universal sangat menarik dan mendatangkan banyak ilham. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh kaum muda masa kini yang tenggelam dalam lingkungan urban materialis dimana televisi dan internet telah tampil sebagai pemberi input terbesar sebagaimana mengenai Sufisme? Bagaimana mereka akan memahami kisah-kisah sufi?
Kisah berikut ini berasal dari matsnawi terkenal karya guru sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi, menggambarkan hal di atas. Seorang murid yang mencari jalan sufi akhirnya merasa bahwa ia telah menguasainya dan datang untuk mengatakannya kepada sang guru. Ia mengetuk pintu dan ditanya ‘Siapa? Menjawab Saya. Sang guru mengatakan, ’Pergilah, kamu belum mendapatkan pengetahuan”. Sang murid pun pergi untuk kembali setelah melakukan lebih banyak lagi latihan-latihan spiritual, dan kali ini kita ditanya siapa mengetuk pintu ia menjawan “Engkau” . “Masuklah”, kata sang guru.”Tidak cukup tempat bagi dua aku di rumah ini”.
Kisah sufi ini menggambarkan lapisan lapisan pemahaman yang terkandung dalam sufisme: penghancuran ego, kebutuhan akan guru sufi yang akan membantu pencarian pengetahuan sepanjang jalan Tuhan, dan pencarian jalan kebenaran, Jalan Tuhan, bagaimanapun esoterisnya. Kisah-kisah ini adalah kiasan, metafor cerita dama cerita. Seperti lapisan dalam bawang kisah-kisah ini memerlukan kesabaran dalam pengupasannya; kisah kisah ini terkadang berakhir dalam air mata.
Sufisme tidak diharapkan bisa populer atau dipahami massa yang didominasi oleh media, oleh propaganda, oleh analisis yang dangkal, oleh kegaduhan dan hantaman berbagai suara dan oleh sikap tidak hormat yang sinis. Zaman kita menuntut pahlawan-pahlawan sederhana - seperti Superman , James Bond, Indiana Jones, Iron Man, Batman. Tema-tema yang mengingatkan kita pada ketidakmantapan hidup di bumi, yang menunjukkan berbagai misteri keberadaan, kompleksitas kemenjadian, tidak siap untuk diterima.
Senin, April 11, 2011
mendengar suara yang indah ----syekh abu nasr as sarraj
Mendengatr Suara Yang Indah
Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Allah swt. berfirman: “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Fathir: 1).
Mereka menafsirkannya dengan akhlak yang mulia dan suara yang indah.
Diriwayatkan dalam Hadis Nabi Saw. bahwa beliau pernah bersabda:
“Allah tidak pernah mengutus seorang nabi kecuali ia memiliki suara yang indah.” (H.R. Tirmidzi).
Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Allah Swt. tidak pernah mendengarkan dengan serius terhadap sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah.” (H.R. Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Hurairah).
Nabi Saw. juga bersabda:
“Sungguh Allah Swt. lebih serius mendengarkan seorang pembaca al-Qur’an dengan suara merdu daripada seorang pemilik biduan perempuan mendengar nyanyian biduannya.” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Fudhalah bin Ubaid).
Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa Nabi Dawud as. dianugerahi suara yang merdu sehingga ketika ia membaca Kitab Zabur, jin, manusia, binatangbuas dan burung khusyuk mendengarkan bacaannya. Bahkan seperti diriwayatkan dalam sebuah Hadis, bahwa kaum Bani Israel pernah berkumpul untuk mendengarkan suara Nabi Dawud, sementara itu ada empat ratus jenazah orang-orang yang telah mati di situ diboyong dari majelisnya. (Imam al-Hafizh al-Iraqi mengatakan, bahwa Hadis ini tak memiliki sumber yang jelas).
Sebagaimana pula diriwayatkan dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Sungguh Abu Musa diberi terompet (seruling) dan terompet keluarga Nabi Dawud a.s. karena ia telah diberi suara yang merdu.” (H.R. Bukhari-Muslim).
Disebutkan dalam sebuah Hadis, “Bahwa pada saat Pembukaan Kota Mekkah, Nabi Saw. membaca surat al-Fath, beliau membaca panjang bacaan mad dan mengulanginya kembali.” (H.R. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud dari Anas dan Ubaidillah bin Mughafal).
Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Saw., “Andaikan aku tahu bahwa engkau orang yang mendengar, niscaya aku akan memperindah suaraku dalam membaca al-Qur’an.” (H.R. Muslim dan Nasa’i).
Diriwayatkan pula dari Nabi Saw. yang bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian yang merdu.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan, bahwa Hadis di atas dimungkinkan memiliki dua pengertian —dan hanya Allah Yang Mahatahu: Pertama, yang dimaksud Hadis di atas adalah menghiasi bacaan al-Qur’an dengan mengeraskan suara ketika membacanya, kemudian memperindah suara dan lagunya. Sebab al-Qur’an adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, maka ia tidak perlu dihiasi dengan suara makhluk atau diperindah dengan lagu yang direkayasa. Kedua, makna yang dimaksud dengan menghiasi bacaan al-Qur’an dengan suara yang indah adalah mendahulukan mana yang harus lebih dahulu dalam makna dan mengakhirkan mana yang harus di akhir, seperti dalam firman Allah Swt.:
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikan di dalamnya suatu yang menyimpang, sebagai bimbingan yang lurus.” (Q.S. al-Kahfi: 1-2).
Artinya dalam uslub mendahulukan mana yang harus didahulukan dan mengakhirkan mana yang terakhir adalah bahwa Allah Swt. menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya sebagai bimbingan yang lurus dan Dia tidak menjadikan suatu yang menyimpang (bengkok). Sementara ayat-ayat seperti ini banyak kita jumpai dalam al-Qur’an.
Allah Swt. mencela suara yang tidak disukai (buruk), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman: 19).
Tentu saja ketika Allah mencela suara yang buruk, Dia akan memuji suara yang indah.
Orang-orang bijak telah banyak berbicara tentang suara yang indah dan alunan lagu yang merdu. Misalnya Dzun-Nun —rahimahullah— pernah ditanya tentang suara yang bagus, maka ia mengatakan, “Itu adalah pembicaraan-pembicaraan dan isyarat-isyarat yang ditujukan kepada al-Haq yang dititipkan pada segala kebaikan.”
Diceritakan dari Yahya bin Mu’adz ar-Razi, yang mengatakan, “Suara yang indah merupakan hiburan dari Allah Swt. bagi hati yang di dalamnya ada rasa cinta kepada Allah.”
Sementara itu yang lain mengatakan, “Lagu yang indah adalah hiburan dari Allah Swt. yang digunakan untuk menghibur hati yang terbakar oleh api cinta Allah Swt.”
Saya mendengar Ahmad bin Au al-Wajihi mengatakan: Saya mendengar Abu Ali ar-Rudzabari —rahimahullah— yang mengatakan, “Bahwa Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi pernah berkata: Ada tiga hal bila ditemukan maka akan menjadi hiburan, sementara saya telah kehilangan semuanya: (1) Suara yang indah dengan tetap berpegang teguh pada agama; (2) Wajah yang cantik dengan tetap menjaga diri; (3) Persaudaraan yang baik dengan penuh kesetiaan.”
Dari Bundar bin al-Husain —rahimahullah— yang mengatakan, “Suara yang bagus merupakan hikmah yang mengakibatkan kebijakan yang selamat. Suara yang merdu dan perkataan yang halus merupakan takdir dari Allah Swt. Yang Mahaagung lagi Mahatahu.”
Termasuk kelembutan yang Allah ciptakan pada keindahan suara adalah ketika seorang anak kecil menangis dalam buaian karena ada sesuatu yang dirasakan sakit, kemudian mendengar suara yang indah, maka ia akan berhenti menangis dan bisa tidur.
Suatu hal yang sudah cukup terkenal, bahwa orang-orang terdahulu mengobati orang yang sakit empedu dengan menggunakan suara yang indah. Dimana pada akhirnya si pasien bisa sehat kembali.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Di antara rahasia yang Allah ciptakan di dalam suara yang merdu dan indah akan memberi semangat baru. Coba Anda perhatikan unta yang melintasi gurun pasir, ketika telah lelah dan tidak mampu meneruskan perjalanannya, maka orang yang menggiringnya akan melantunkan senandung untuknya. Unta akan asyik mendengarkan lantunan senandungnya dengan memanjangkan lehernya dan memasang telinganya ke arah orang yang bersenandung, kemudian jalannya menjadi cepat sehingga barang-barang bawaannya bergoncang. Tapi barangkali nafasnya akan habis bila orang yang menggiring tidak melantunkan senandungnya lagi, setelah ia berjalan dengan cepat dan beban bawaannya cukup berat, dimana sebelumnya ia merasa ringan pada saat mendengar keindahan dan kemerduan suara orang yang menggiringnya.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah—juga mengatakan: Ketika ad-Duqqi di Damaskus ia pernah bercerita kepadaku tentang suatu kisah yang searti dengan hal di atas, dimana ia ditanya mengenai hal itu, maka ia bercerita: Ketika berada di gurun pasir aku mendatangi salah satu kabilah Arab, kemudian salah seorang dan mereka menyambutku dan mempersilakan masuk ke dalam sebuah kemah. Di dalam kemah aku melihat seorang budak hitam yang diikat dengan rantai, sementara di depan kemah kulihat beberapa ekor unta yang telah mati dan ada seekor unta kurus dan lunglai seperti mau mati. Maka si budak yang diikat oleh tuannya itu berkata kepadaku, “Pada malam ini Anda adalah tamu tuan saya. Sementara Anda adalah orang yang dihormatinya, maka tolonglah saya agar ia mau melepaskan saya dari ikatan ini, karena ia tidak mungkin menolak permintaan Anda.”
Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Allah swt. berfirman: “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Fathir: 1).
Mereka menafsirkannya dengan akhlak yang mulia dan suara yang indah.
Diriwayatkan dalam Hadis Nabi Saw. bahwa beliau pernah bersabda:
“Allah tidak pernah mengutus seorang nabi kecuali ia memiliki suara yang indah.” (H.R. Tirmidzi).
Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Allah Swt. tidak pernah mendengarkan dengan serius terhadap sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah.” (H.R. Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Hurairah).
Nabi Saw. juga bersabda:
“Sungguh Allah Swt. lebih serius mendengarkan seorang pembaca al-Qur’an dengan suara merdu daripada seorang pemilik biduan perempuan mendengar nyanyian biduannya.” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Fudhalah bin Ubaid).
Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa Nabi Dawud as. dianugerahi suara yang merdu sehingga ketika ia membaca Kitab Zabur, jin, manusia, binatangbuas dan burung khusyuk mendengarkan bacaannya. Bahkan seperti diriwayatkan dalam sebuah Hadis, bahwa kaum Bani Israel pernah berkumpul untuk mendengarkan suara Nabi Dawud, sementara itu ada empat ratus jenazah orang-orang yang telah mati di situ diboyong dari majelisnya. (Imam al-Hafizh al-Iraqi mengatakan, bahwa Hadis ini tak memiliki sumber yang jelas).
Sebagaimana pula diriwayatkan dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Sungguh Abu Musa diberi terompet (seruling) dan terompet keluarga Nabi Dawud a.s. karena ia telah diberi suara yang merdu.” (H.R. Bukhari-Muslim).
Disebutkan dalam sebuah Hadis, “Bahwa pada saat Pembukaan Kota Mekkah, Nabi Saw. membaca surat al-Fath, beliau membaca panjang bacaan mad dan mengulanginya kembali.” (H.R. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud dari Anas dan Ubaidillah bin Mughafal).
Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Saw., “Andaikan aku tahu bahwa engkau orang yang mendengar, niscaya aku akan memperindah suaraku dalam membaca al-Qur’an.” (H.R. Muslim dan Nasa’i).
Diriwayatkan pula dari Nabi Saw. yang bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian yang merdu.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan, bahwa Hadis di atas dimungkinkan memiliki dua pengertian —dan hanya Allah Yang Mahatahu: Pertama, yang dimaksud Hadis di atas adalah menghiasi bacaan al-Qur’an dengan mengeraskan suara ketika membacanya, kemudian memperindah suara dan lagunya. Sebab al-Qur’an adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, maka ia tidak perlu dihiasi dengan suara makhluk atau diperindah dengan lagu yang direkayasa. Kedua, makna yang dimaksud dengan menghiasi bacaan al-Qur’an dengan suara yang indah adalah mendahulukan mana yang harus lebih dahulu dalam makna dan mengakhirkan mana yang harus di akhir, seperti dalam firman Allah Swt.:
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikan di dalamnya suatu yang menyimpang, sebagai bimbingan yang lurus.” (Q.S. al-Kahfi: 1-2).
Artinya dalam uslub mendahulukan mana yang harus didahulukan dan mengakhirkan mana yang terakhir adalah bahwa Allah Swt. menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya sebagai bimbingan yang lurus dan Dia tidak menjadikan suatu yang menyimpang (bengkok). Sementara ayat-ayat seperti ini banyak kita jumpai dalam al-Qur’an.
Allah Swt. mencela suara yang tidak disukai (buruk), sebagaimana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman: 19).
Tentu saja ketika Allah mencela suara yang buruk, Dia akan memuji suara yang indah.
Orang-orang bijak telah banyak berbicara tentang suara yang indah dan alunan lagu yang merdu. Misalnya Dzun-Nun —rahimahullah— pernah ditanya tentang suara yang bagus, maka ia mengatakan, “Itu adalah pembicaraan-pembicaraan dan isyarat-isyarat yang ditujukan kepada al-Haq yang dititipkan pada segala kebaikan.”
Diceritakan dari Yahya bin Mu’adz ar-Razi, yang mengatakan, “Suara yang indah merupakan hiburan dari Allah Swt. bagi hati yang di dalamnya ada rasa cinta kepada Allah.”
Sementara itu yang lain mengatakan, “Lagu yang indah adalah hiburan dari Allah Swt. yang digunakan untuk menghibur hati yang terbakar oleh api cinta Allah Swt.”
Saya mendengar Ahmad bin Au al-Wajihi mengatakan: Saya mendengar Abu Ali ar-Rudzabari —rahimahullah— yang mengatakan, “Bahwa Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi pernah berkata: Ada tiga hal bila ditemukan maka akan menjadi hiburan, sementara saya telah kehilangan semuanya: (1) Suara yang indah dengan tetap berpegang teguh pada agama; (2) Wajah yang cantik dengan tetap menjaga diri; (3) Persaudaraan yang baik dengan penuh kesetiaan.”
Dari Bundar bin al-Husain —rahimahullah— yang mengatakan, “Suara yang bagus merupakan hikmah yang mengakibatkan kebijakan yang selamat. Suara yang merdu dan perkataan yang halus merupakan takdir dari Allah Swt. Yang Mahaagung lagi Mahatahu.”
Termasuk kelembutan yang Allah ciptakan pada keindahan suara adalah ketika seorang anak kecil menangis dalam buaian karena ada sesuatu yang dirasakan sakit, kemudian mendengar suara yang indah, maka ia akan berhenti menangis dan bisa tidur.
Suatu hal yang sudah cukup terkenal, bahwa orang-orang terdahulu mengobati orang yang sakit empedu dengan menggunakan suara yang indah. Dimana pada akhirnya si pasien bisa sehat kembali.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Di antara rahasia yang Allah ciptakan di dalam suara yang merdu dan indah akan memberi semangat baru. Coba Anda perhatikan unta yang melintasi gurun pasir, ketika telah lelah dan tidak mampu meneruskan perjalanannya, maka orang yang menggiringnya akan melantunkan senandung untuknya. Unta akan asyik mendengarkan lantunan senandungnya dengan memanjangkan lehernya dan memasang telinganya ke arah orang yang bersenandung, kemudian jalannya menjadi cepat sehingga barang-barang bawaannya bergoncang. Tapi barangkali nafasnya akan habis bila orang yang menggiring tidak melantunkan senandungnya lagi, setelah ia berjalan dengan cepat dan beban bawaannya cukup berat, dimana sebelumnya ia merasa ringan pada saat mendengar keindahan dan kemerduan suara orang yang menggiringnya.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah—juga mengatakan: Ketika ad-Duqqi di Damaskus ia pernah bercerita kepadaku tentang suatu kisah yang searti dengan hal di atas, dimana ia ditanya mengenai hal itu, maka ia bercerita: Ketika berada di gurun pasir aku mendatangi salah satu kabilah Arab, kemudian salah seorang dan mereka menyambutku dan mempersilakan masuk ke dalam sebuah kemah. Di dalam kemah aku melihat seorang budak hitam yang diikat dengan rantai, sementara di depan kemah kulihat beberapa ekor unta yang telah mati dan ada seekor unta kurus dan lunglai seperti mau mati. Maka si budak yang diikat oleh tuannya itu berkata kepadaku, “Pada malam ini Anda adalah tamu tuan saya. Sementara Anda adalah orang yang dihormatinya, maka tolonglah saya agar ia mau melepaskan saya dari ikatan ini, karena ia tidak mungkin menolak permintaan Anda.”
Selasa, Juli 20, 2010
TARBIYAH OF RAMADHAN
TARBIYAH OF RAMADHAN
Oleh Muhammad Muhtar Arifin Sholeh
NIAT IKHLAS
Kajian kali ini memang berkaitan erat dengan rukun iman yang pertama. Al-Quran memberitahu ummat manusia tentang the real God, Tuhan yang sebenarnya (asli), yaitu di surat al-Ikhlaas. Sebagian besar muslim sudah bertahun-tahun hafal surat ini, tetapi permasalahannya sudah bisakah kita membacanya ? menulisnya ? dan mengerti isinya ? Kata al-Ikhlaas secara etimologis berarti murni, asli, belum kecampuran apa-apa, sehingga surat itu menjelaskan Tuhan yang asli menurut al-Quran, konsep Tuhan yang belum kecampuran otak pikiran manusia
Al-Quran surat al-Ikhlaas menyatakan bahwa the name of the real God is Allah, “katakanlah bahwa dia itu Allah”. Allah (الله) memang menjadi proper name untuk Tuhan yang asli, namun memang tepatnya ditulis dalam bahasa Al-Quran (jika ditransliterasi dalam roman script menjadi Allah – alif lam-lam ha’ - الله). Jadi bukan nama yang lain, bukan yesus, bukan brahma-wisnu-siwa, bukan sang hyang widi wasa, bukan theos, bukan god, bukan tuhan, dan bukan gusti ingkang murbehing dumadi.
Tuhan yang asli, yaitu Allah, mempunyai ciri-ciri Ahad (Esa), Shomad (Tempat Bergantung), Lam Yaalid (Tidak Melahirkan), Lam Yuulad (Tidak Dilahirkan), dan Lam Yakul-lahuu Kuffuwwan Ahad (Tidak Ada Satupun yang Menyamai-Nya). Ciri pertama dan terakhir merupakan ajaran tauhid (pengesaan Allah, keyakinan satu terhadap Allah) yang meliputi tauhid rubuubiyah, tauhid asma wa sifat, tauhid mulkiyah, dan tauhid uluuhiyah. Kajian tauhid bisa sangat mendalam / sangat luas.
Ustadz-ustadzah saya pernah mengajarkan bahwa membaca tiga kali surat al-Ikhlaas bernilai sama dengan mengkhatamkan al-Quran. Artinya, jika ayat pertama dan terakhir surat al-Ikhlas berisikan ajaran tauhid, maka surat pertama dan terakhir al-Quran (al-Fatihah dan an-Naas) juga berisikan ajaran tauhid, baik tauhid rubuubiyah (Rabbul-‘aalamiin dan Rabbun-naas), tauhid asma wa sifat (ar-Rahmaan, ar-Rahiim, dan al-Maalik, sebagai salah tiga dari nama dan sifat Allah), tauhid mulkiyah (Maaliki yaumiddiin dan Malikin-naas), dan tauhid uluuhiyah (Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin dan Ilaahin-naas).
Bagaimana manusia seharusnya bersikap (berakhlaq) kepada Allah swt, Tuhan yang sebenarnya ? Akhlaq kepada Allah dapat diwujudkan dengan niat ikhlas, sikap taqwa, bersyukur atas nikmat-Nya, muraqabah, dan sebagainya. Niat ikhlas jangan diartikan “gratisan, tidak ada bayaran”, itu arti yang salah-kaprah. Jika orang bekerja kemudian menerima bayaran (imbalan) maka orang ini tidak niat ikhlas, sedang jika ia tidak menerima bayaran maka dia berniat ikhlas. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang belum tentu benar dan tidak pada tempatnya. Masalah imbalan itu urusan perjanjian antar manusia yang harus dipenuhi (jika memang sepakat) karena Allah juga mengajarkan tentang imbalan yaitu pahala atau masuk surga. Rasulullah saw menyatakan, yang artinya, “berikanlah kepada buruh upahnya sebelum kering keringatnya” (HR Abu Ya’la, Ibnu Majah, dan Thabrani).
Niat ikhlas adalah karena Allah semata. Memang seluruh anggota tubuh ini melakukan tugas (beramal) masing-masing karena Allah sebagai Sang Pencipta. Mata melihat, telinga mendengar, hidung membau, mulut bicara/makan-minum, kaki berjalan, otak berpikir, jantung mengurusi peredaran darah, dan sebagainya. Semua pekerjaan itu aslinya terjadi karena mengikuti keinginan Allah al-Khaliq sebagai Sang Pencipta. Jadi, pekerjaan apapun (tentunya yang baik-baik) harus diniiatkan karena Allah semata. Ikhlas karena Allah syarat diterimanya amal. Tentunya jika sudah niat karena Allah, diteruskan dengan amal yang dituntunkan oleh-Nya untuk mencapai ridho-Nya.
Islam disebut dengan ad-diinul-khaalish. Kata al-khaalish mempunyai makna akar kata yang sama dengan al-ikhlaash yaitu murni atau asli. Artinya, Islam adalah agama yang asli (murni) dari Allah, tidak kecampuran dengan hawa nafsu manusia. Allah menciptakaan manusia dengan ad-diin (ciri/sifat, adat kebiasaan, tradisi, jalan, hukum, aturan) yaitu struktur bagian tubuh, tata letak bagian tubuh, fungsi bagian tubuh, dan seluruh sistem yang ada di tubuh (sistem syaraf, pernafasan, pencernaan, peredaran darah, otot, tulang eskresi/sekresi, hormone, dan sebagainya). Sesuai dengan aslinya, tubuh manusia menyerahkan dirinya (ber-aslama, berislam) untuk tunduk-patuh kepada keinginan dan ketentuan atau aturan Allah Sang Pencipta. Jadi, mata manusia (aslinya) berislam kepada Allah dengan melihat, telinga yang asli berislam dengan mendengar, mulut yang murni ciptaan Allah berislam dengan bicara/makan-minum, hidung asli buatan Allah berislam dengan membau, kaki manusia yang murni buatan Allah digunakan untuk berjalan/berlari, otak ciptaan Allah berislam dengan berpikir, jantung dengan mengurusi sistem peredaran darah, paru-paru dengan mengurusi sistem pernafasan, tulang dengan menopang tubuh, dan sebagainya.
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS al-Imraan 3:83)
Keikhlasan penuh kepada Allah (niat ikhlas hanya karena Allah) menjadi senjata hebat untuk melawan kekuatan setan. Setan tidak mampu menembus orang-orang ikhlas (mukhlisin). Allah berfirman:
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka" (QS al-Hijr 15:39-40)
Keikhlasan penuh kepada Allah berarti menjauhkan diri dari rasa riya (pamer) kepada sesama manusia. Iman seseorang akan sempurna jika ia menjauhkan diri dari riya yang dapat menghancurkan pahala amal sebagaimana api yang membakar kayu kering. Rasulullah saw bersabda, yang artinya, “Tiga perkara, barang siapa hal itu ada pada dirinya, berarti ia menyempurnakan imannya; 1) seseorang yang tidak pernah takut demi agama Allah pada kecaman si pengecam, 2) tidak riya dengan sesuatu dari amalannya, dan 3) jika dua perkara dihadapkan kepadanya, salah satu untuk dunia dan yang lain untuk akhirat, maka ia memilih urusan akhirat daripada urusan dunia” (HR Ibnu Asakir dari Abu Hurairah). Beliau juga menyatakan, yang artinya, “Sesungguhnya yang paling aku takuti atas kamu adalah syirik yang paling kecil. Sahabat bertanya, ‘Apa syirik yang paling kecil itu’? Rasul menjawab ‘riya’” (HR Ahmad)
Wallaahu a’lam bish-shawwab,
Fas-aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun
Minggu, Juli 04, 2010
Pendekatan Sufistik
Pendekatan Sufistik
Sebuah kitab berjudul “Al-Munqidz minadh-Dhalal” karya Hujjatul Islam Al-Ghazali, Ulama besar abad VI hijriyah, telah mengilhami banyak kesadaran spiritual umat Islam, bahkan masyarakat dunia ketika itu. Makna dari judul itu adalah “Penyelamat dari kegelapan”.
Sebuah wacana yang mengingatkan kita semua, bahwa siklus moralitas manusia, akan menuju titik jenuhnya, dan secara dramatis telah memasuki abad-abad kegelapan yang mengerikan.
Dalam konteks kebangsaan kita dewasa ini, bentangan sejarah masa lalu merupakan mosaik yang memantulkan tiga wajah sejarah yang saling memperebutkan hegemoni, tanpa disadari hegemoni-hegemoni itu seringkali membiaskan gambaran, betapa drama para pemimpin negeri, konstelasi ideologi dan kepentingan pragmatis menjadi warna yang saling bergulungan satu sama lainnya. Lalu hari ini, tiba-tiba kita sudah berada di hamparan pulau asing, tanpa horison perspektif dan kaki langit yang jelas. Hari ini adalah kenyataan-kenyataan dari pantulan mosaik yang buram dari masa lalu yang kelam.
Kitab Al-Ghazali itu, tentu saja masih relevan untuk menimbang moralitas kebangsaan kita hari ini, untuk sebuah solusi besar yang mondial. Karena sesungguhnya, masalah-masalah kontemporer dari soal KKN, delegitimasi politik, dan konspirasi masih terus berlangsung.
Di satu sisi, ada lapisan generasi muda yang hendak bangkit mewarnai negeri ini harus tumbuh dengan situasi konflik horisontal dan ideologis, tanpa lahir dari kandungan “kasih sayang” kebudayaan politik generasi tua, sedangkan di lain pihak, desakan-desakan internasional yang sulit dibendung ketika globalisasi terus menggulung belahan bangsa yang belum sama sekali siap menyongsong suatu abad, dimana hegemoni masyarakat industri semakin liar menancapkan “penjajahan baru”.Tidak hanya generasi muda, tetapi juga generasi tua, tidak bisa bicara banyak, dalam menghadapi tantangan-tantangan internasional seperti itu, mengingat moralitas kebangsaan kita masih berada di dalam proses penyembuhan dari penyakit jiwanya.
Makanya, opini publik mengalami kontaminasi luar biasa, bahkan sampai pada tingkat paling maniak, publik harus memendam kekecewaan yang mendalam, karena lipatan-lipatan peristiwa yang terorganisir, dalam fluktuasi yang bergelombang, tanpa bisa diduga kemana arah angin yang menuntun kapal bersar bangsa ini tertuju. Situasinya sedemikian keruh, saling tumpang tindih peran, karena masing-masing kelompok sesungguhnya berada dalam jurang ketakutan, dengan saling membangun alibi yang sangat instan.
Drama Kemelut
Drama kebangsaan itulah yang menyebabkan hilangnya prioritas kerja besar yang mesti diagendakan, berbalik tanpa skenario ke depan yang menjanjikan, keculai perubahan skenario yang serba mendadak, dan membuat berbagai kebijakan terasa gagap. Padahal ada kata bijak yang sering diungkap oleh para Ulama, “Dar’ul Mafasid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih”, yang berarti meninggalkan atau membersihkan mafsadah bangsa ini harus diprioritaskan ketimbang reformasi. Kaidah arif ini sama seperti tergilas oleh usaha reformasi, yang muncul bukan karena sebuah TIB yang merespon masa depan, tetapi lebih sebagai eskapisme dan kekecewaan atas penidasan struktural maupun kultural di masa Orba.
Hari ini kita menghadapi tiga masalah besar yang mesti diselesaikan tanpa harus mempertimbangkan lagi toleransi-toleransi politis:
Masalah pertama, adalah robeknya spirit merah putih dalam compang camping sejarah hari ini. Merah putih yang menjadi simbol nasionalisme harus banyak ditarik oleh tangan-tangan ambisi yang sangat kotor: Kalau bukan tangan yang menginginkan merebut merah putih agar tergenggam erat di tangannya, sebagai legitimasi atas kekuasaan yang diraihnya, maka merah putih malah dirobek untuk ditambal dengan warna-warni lainnya atas nama aspirasi publik di negeri yang terbuka peluang-peluang demokrasi dan HAM-nya.
Sementara watak demokrasi TIB sendiri belum mendaratkan dirinya pada landasan kebangsaan yang kokoh, dalam wujudnya yang eksistensial sebagai demokrasi khas Indonesia , sehingga simbol-simbol ideologis di luar merah putih sangat antusias untuk turut mewarnai bendera nasional kita. Lebih sederhana, sesungguhnya ada masalah ideologis saling tarik menarik antar kekuatan politik di negeri ini, ditambah dengan kekuatan politik non ideologis yang opportunis.
Masalah kedua, berkait dengan etika dan etos penyelenggaraan negara. Sampai pada kesimpulan, bangsa kita telah “mati rasa” dengan ungkapan soal etika, mulai dari anak-anak remaja sampai kaum elit di Jakarta . Kita harus jujur dan terbuka, bahwa “akhlak bangsa” kita telah tersungkur dalam degradasi watak-watak kebangsaan dari bangsa-bangsa di dunia, dalam berbagai sektor kehidupan. Kalau boleh diungkapkan dengan satu kata saja, kita hanya bisa berucap, “Astaghfirullahal ‘Adzim”, sebagai ungkapan satu-satunya bagi ketidakberdayaan moral kita.
Sebab apa yang disebut sebagai perselingkuhan moral terjadi dimana-mana, di ketiak-ketiak birokrasi, dibalik kata-kata “perjuangan” di Senayan, bahkan yang paling mengerikan ketika moral dijualbelikan di balik api konflik SARA, lalu dimanage untuk hegemoni kepentingan, tanpa sedikit pun para pelakunya merasa bersalah, karena lembaga peradilan moral kita tak pernah bergeming kecuali hanya terbatas pada teriakan-teriakan protes atas pelanggaran HAM dan formalisme-formalisme hukum yang bisa dimainkan oleh para pemegang opsi hukum di lembaga peradilan.
Drama moral kebangsaan ini, kemudian bisa kita lihat dari tiga aspek yang nyata: moral individu, moral publik dan moral aparat negara, yang masing-masing diperlemah oleh sanksi-sanksi moral dalam ketidakpastian hukum. Lalu pertanyaan yang belum bisa terjawab, karakteristik bangsa seperti apakah yang menjadi predikat kita hari ini? Lalu kapankah kita bisa disebut sebagai sosok bangsa yang bangkit dari reruntuhan moral ini?
Masalah ketiga, mengadapi globalisasi, khususnya paska tragedi Sebelas September lalu hingga bom Bali, sampai krisis Irak, bahkan krisis global baru-baru ini, yang dicemaskan berdampak ke negeri kita, lalu muncul Drama Century yang dahsyat.
Menghadapi globalisasi berarti duduk bersama dalam Tata Dunia Baru, yang sejak awal Indonesia telah dipandang sebagai bangsa dan negara yang tidak begitu penting, sehingga tidak pernah terdengar sedikit pun perjuangan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan tentang arah Tata Dunia Baru tersebut. Kalau harus memilih untuk pengambilan keputusan sejarah, bangsa Indonesia lebih memilih menjadi bangsa yang “terhibur” oleh globalisasi, ketimbang sebagai bangsa yang dihargai sama, dengan bangsa-bangsa lain.
Sebagai bangsa yang terhibur, mereka tiba-tiba telah jatuh tersungkur dalam kubangan ekonomi dan mata uang dengan waktu yang singkat dan cepat. Faktanya, bangsa kita tidak pernah serius dalam soal hubungan internasional, lalu sekali lagi hanya bisa menghibur diri dengan ungakapn-ungkapan yang membius, sebagai “bangsa besar.” Bahkan apa sesungguhnya globalisasi itu, kemana arahnya, bangsa kita tidak pernah peduli, karena memang tidak tahu, skenario yang sesungguhnya.
KACAMATA SUFISTIK
Keluar dari tiga masalah besar tersebut, kita perlu urai masing-masing pendekatan melalui kacamata Sufistik, sebuah pendekatan dimensi moral; terdalam dari pengalaman teosofis kita, agar ada kejernihan nurani dalam memandang dimensi ke-Indonesiaan dari sisi hakiki yang selama ini terabaikan, namun sesungguhnya sangat fundamental.
Untuk solusi benturan psikhologis dibalik tarik-menarik ideologi kebangsaan, dunia Sufi memandang dari proses pergumulan ini dengan dua kaidah Sufi yang tertera dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, Ulama Sufi besar satu abad paska Al-Ghazali, yang cukup relevan.
Kaidah Alhikam pertama, berbunyi, “Tanda-tanda sebuah bangsa terlalu mengandalkan nama besarnya, egoismenya, amaliahnya, adalah hilangnya optimisme masa depan di depan Allah ketika bangsa itu berbuat kesalahan.”
Kaidah Alhikam kedua, jika ditafsirkan lebih “berkebangsaan” bisa berbunyi, “Kehendak bangsa yang ingin memasuki dunia serba Ilahi, sementara Tuhan masih memposisikan bangsa itu di wilayah atau alam logika sebab akibat historis, sesungguhnya bangsa itu sedang terseret oleh emosi-emosinya yang masih tersembunyi didalam jiwa bangsa itu. Dan sebaliknya suatu bangsa yang telah diposisikan Allah untuk memandang perspektifnya dari serba Ilahi, tiba-tiba mereka memaksakan dirinya untuk terlibat dalam alam logika sebab akibat, sesungguhnya bangsa itu sedang berada dalam degradasi derajat kebangsaannya.”
Hikmah Sufi itu, menggambarkan tentang etika penyelenggaraan kekuasaan dan politik di negeri kita, agar kembali pada proporsi pandangan hidup berbangsa yang benar:
Hikmah Sufi itu, menggambarkan tentang etika penyelenggaraan kekuasaan dan politik di negeri kita, agar kembali pada proporsi pandangan hidup berbangsa yang benar:
Manakah yang dijadikan dasar perjuangan ideologis, religius, hubungan-hubungan strategis dan kultur yang hendak dibangun, mengingat masing-masing saat ini berada dalam tumpang tindih yang satu sama lain saling mengintervensi. Tidak jelas dalam praktek kehidupan berbangsa, mana yang masuk sebagai wilayah Ketuhanan, wilayah kemanusiaan, wilayah interaksi kebangsaan yang plural, dan mana wilayah serta tarik menarik budaya dan ideologinya.
Dunia Sufi memandang persoalan lebih bersifat deduktif, dari wilayah kedalam hakikat kultural, kemudian diwujudkan dalam kerangka besar kebangsaan, mengingat sejarah kebangsaan kita sesungguhnya mendahului sejarah kenegaraan kita. Sehingga formalisme negara, tidak akan kokoh manakala tidak mendasarkan pada kultur kebangsaannya.
Nasionalisme modern yang dijadikan wacana Tata Indonesia Baru (TIB) tidak bisa melepaskan diri dari tiga masalah besar sebelumnya: Watak ideologis; Etika penyelenggaraan negara dan Tata Dunia Baru dalam pergumulan globalisasi. Ketiganya muncul dalam kerucut demokrasi yang harus dipraktekkan dalam watak kebudayaan kita, dengan etika-etika dan kepastian hukum yang berlaku. Jangan sampai kita terjebak oleh arus besar globalisasi tanpa menyertakan perimbangan dari berbagai dimensi kebangsaan kita secara lebih demokratik, mengingat kesepakatan tentang demokrasi yang hendak kita bangun masih dalam perdebatan konstelatif yang panjang.
Misalnya, bagaimana wujud demokrasi dalam praktek birokrasi pemerintahan kita, bagaimana pula model yang akan muncul dalam praktek peradilan kita, bahkan dalam hubungan antar partai dan lembaga-lembaga tinggi negara serta hubungan internasional. Pertanyaan berikut masih harus diselesaikan menyangkut keadilan ekonomi, prinsip-prinsip Hankam yang demokratik, dan hubungan antara daerah dengan pusat dalam kerangka Otonomi Daerah.
TIGA PENDEKATAN
Proses-proses horisontal kebangsaan itu, menurut dunia Sufi diposisikan menjadi tiga konstelasi besar.
Pertama, konstelasi yang berhubungan dengan sistem konstitusi, sistem politik, penegakan HAM serta sistem sosial yang pluralistik ini. Inilah yang disebut sebagai sistem syar’iyat, dimana lapisan-lapisan dunia lahiriyah berinteraksi untuk kepentingan publik.
Pada sistem syar’iyat, aturan hukum -- namun bukan sebagaimana digerakkan oleh kekuatan-kekuatan formalisme syariat Islam selama ini – , kita berpijak pada gagasan besar membangun kehidupan terbuka, adil dan memihak pada kepentingan rakyat. Pada level inilah Allah swt, memberikan kebebasan kepada publik untuk menentukan kebajikan publiknya, yang kelak memberi penguatan struktural pada sistem politik, penyelenggaraan negara, dan kemakmuran ekonomi rakyat. Inilah yang disebut kaum Sufi dengan penataan kehidupan lahiriyah (Ishlahudz-Dzowahir).
Kedua, konstelasi yang berhubungan dengan sistem kebudayaan, penguatan akan keyakinan moral dan akhlak bangsa. Sistem ini disebut sebagai metode Thariqat, dimana inspirasi teologis menggerakkan etika publik dan individu. Hubungan teologis dalam kehidupan sosial politik dan ekonomi, hanyalah hubungan inspiratif, karenanya tidak bisa diformulasikan dalam pasal-pasal formal konstitusi. Kelak secara langsung, hubungan ini akan membentuk watak kebangsaan kita dalam sistem kebudayaan.
Konstelasi ini diperlukan mengingat kultur teologis bangsa kita sangat beraneka, satu sama lain membutuhkan akomodasi yang proporsional. Tanpa akomodasi kultural seperti itu, demokratisasi yang kita kembangkan akan mengalami kebuntuan moral, karena demokrasi hanya akan menimbang mayoritas dan minoritas untuk menentukan kalah dan menang. Jika hal demikian diterapkan di negeri ini, kekuatan-kekuatan minoritas akan tertindas oleh diktator mayoritas, sekalipun mayoritas itu mengatasnamakan Tuhan untuk legitimasi politiknya. Cara ini untuk menghindari mafioso minoritas yang ekstrim dalam tata ekonomi dan kekuasaan, sebagaimana telah terjadi di masa Orde Baru dulu.
Etika kebangsaan akan berpijak pada tipikal “Thariqat” ini, yang bia dilaksanakan melalui sistem pendidikan nasional. Dengan demikian, sistem Diknas kita perlu perubahan reformatorik, bukan saja kualitas dunia kependidikan kita yang telah terdegradasi dari kualifikasi pendidikan internasional, mengingat peringkat kita telah turun derajatnya menjadi urutan sangat bawah, dibanding Vietnam yang sudah berada di urutan ke 40, dan Malaysia di urutan ke 12. Tetapi juga, dunia pendidikan kita telah kehilangan watak keluhurannya dalam membentuk watak budi pekerti generasi muda bangsa ini.
Pendidikan kita tidak memberi garansi moral para calon pemimpin dan politisi untuk memiliki etika, juga tidak menjamin seorang pengusaha dan penguasa bisa bebas dari hasrat KKN. Jika ini dibiarkan akan muncul anarkhisme moral yang sangat mengancam seluruh elemen bangsa ini, ketika moral hanya dijadikan alibi untuk menipu publik. Masya Allah!
Ketiga, konstelasi hakikat, bahwa seluruh muara membangun kebersamaan dalam berbangsa ini harus didasari oleh sebuah tujuan mulia, yaitu memandang Cahaya Ketuhanan dibalik proses bersejarah, bahwa segala muara bangsa ini dariNya, bersamaNya, menuju padaNya, besertaNya, lebur padaNya, hanya bagiNya dan bersandar padaNya. Jika terjadi sungguh sangat bercahaya bangsa ini.
KHM Luqman Hakim
Senin, Juni 07, 2010
WARA'
WARA’
Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg.[1]
Penyuluh Agama Islam Kokap
Menurut bahasa menahan hal yang tidak layak. Dikatakan tawarro’a artinya merasa tidak enak. Al Waro’ juga sesinonim pengertiannya dengan taqwa.
Pengertian wara’ menurut istilah syari’at berasal dari wari’a yari’as, dambil dari materi waro’a mengandung makna mencegah diri dan surut. Al Waro’menurut pengertian bahasa juga berarti memelihara dan mencegah diri terhadap artinya meninggalkan suatu yang meragukan Anda, membuang hal yang membuat anda tercela, mengambil hal yang lebih kuat, dan memaksakan diri untuk melakukan hal dengan lebih hati-hati. Wara’ kesimpulannya ialah menjauhi hal-hal yang subhat dan senantiasa mengawasi detikan hati dan jalannya pikiran.
Ibnu Taimiyah Rmh. Telah mengatakan sehubungan dengan pengetian wara’. Bahwa wara’ artinya sikap hati-hati terhadap hal yang dikhawatirkan kesudahannya, yaitu hal yang telah diketahui status keharamannya dan juga terhadap hal yang masih diragukan status keharamannya, namun bila ditinggalkan tiada kerusakan yang lebih parah daripada mengerjakannya. Hal ini merupakan syarat yang penting sehubungan dengan sebagai hal yang masih diragukan status hukumnya. Demikian pula halnya dengan ihtiyal (mencari-cari alasan) untuk melakukan hal yang masih diragukan status wajibnya, tetapi pengertiannya berdasarkan sudut pandang ini.
Ibnul Qoyyim rmh. telah mendefinisikan wara’ dengan pengertian meninggalkan hal yang di khawatirkan akan menimbulkan bahaya dalam kehidupan akhirat nanti. Diantara sarana penghambaan diri dan memohon pertolongan kepada Allah termasuk pula wara’.
Sesungguhnya Allah SWT. telah berfirman :
kr'¯»t ã@ß9$# (#qè=ä. z`ÏB ÏM»t6Íh©Ü9$# (#qè=uHùå$#ur $·sÎ=»|¹ ( ÎoTÎ) $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×LìÎ=tæ ÇÎÊÈ
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Qs. Al Mu’minun(23):51)
Dalam ayat lain telah disebutkan oleh firmanNYa:
y7t/$uÏOur öÎdgsÜsù ÇÍÈ
Dan pakaianmu bersihkanlah,(QS. Al Mudatsir (74): 4)
Yakni bersihkanlah dirimu dari dosa-doa. Dalam ayat ini dipakai ungkapan kinayah (sindiran) untuk menunjukan pengertian diri dengan memakai kata pakaian. Demikianlah menurut sejumlah ulama ahli tahqiq (peneliti) dari kalangan ulama’ tafsir. Perihalnya sama seperti yang dikatakan oleh Ghailan Ats Tsaqafi dalam ungkapan berikut: ”Segala puji bagi Allah, karena sesungguhnya aku tidak pernah mengenakan pakaian khianat maupun kedoknya.”
Tidak diragukan lagi bahwa membersihkan diri dari berbagai macam najis dan membebaskannya merupakan bagian dari pembersihan yang diperintahkan, karena dengan merealisasikan hal ini, berarti akan menjadi sempurnalah perbaikan amalan dan akhlaq. Makna yang dimaksud ialah bahwa wara’ akan mensucikan hati seorang hamba dari najis dan kotorannya, sebagaimana air dapat mensucikan pakaian dari kotoran dan najisnya. Demikian itu karena di antara pakaian dan kalbu terdapat hubungan yang jelas.
Sesungguhnya Nabi SAW. Telah menghimpun pengertian wara’ dalam suatu kalimat melalui sabdanya;
“Termasuk kebaikan Islam seseorang ialah bila ia meninggalkan apa yang tidak berkepentingan baginya.”
Pengertian makna haditas ini mencakup anjuran untuk meningglkan sesuatu yang bukan menjadi urusannya, baik yang berupa ucapan, pandangan, pendengaran, pukulan tangan, jalan kaki, pikiran maupun semua gerakan, baik yang lahir maupun yang batin. Kalimat ini cukup memberikan pengertian yang memaskan pengertian wara’.
Ibrahim bin A’dham telah mengatakan : Wara’ ialah meninggalkan setiap perkara yang syubhat, meninggalkan hal yang menjadi urusanmu, dan meninggalkan hal-hal yang tiada artinya.”
Tirmidzi telah meriwayatkan sebua hadits yang berpredikat marfu’:
“Hai Abu Hurairah, jadilah kamu seorang yang memiliki perasaan wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling ahli dalam beribadah!”
Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat taqwa sebelum meninggalkan hal yang tidak mengapa karena khawatir akan terjerumus ke dalam hal yang ada apanya. Salah seorang dari ulama’ mengatakan “Dahulu kami meninggalkan 70 macam perkara yang halal karena khawatir terjerumus ke dalam perkara yang haram.”
Sehubungan dengan topik wara’ ini terdapat masalah yang sangat penting kaitannya dengan wara’, yaitu masalah ilmu, karena sungguhnya wara’ tidak mungkin dapat direalisasikan tanpa ilmu. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rmh. Telah mengatakan dalam pernyataannya bahwa wara’ dapat direalsasikan dengan sempurna apabila orang yang bersangkutan telah mengetahui hal yang terbaik diantara dua hal yang baik dan hal yang terburuk diantara dua hal yang buruk. Dia mengetahui bahwa hukum syariat itu pada dasarnya dibangun di atas dasar kriteria yang mengacu pada kemaslahatan dan kesempurnaannya atau mengantisipasi tejadinya keusakan dan meminimalisirnya. Karena sesungguhnya barang siapa yang tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang bermaslahat bagi syariat dan hal-hal yang merusaknya, sudah barang tentu dia tidak mempunyai parameter tertentu terhadap sesuatu yang harus dilakukan an harus ditinggalkannya. Bahkan bisa jadi dia akan meninggalkan hal-hal yang wajib dan justru terjebak ke dalam hal-hal yang diharamkan, dan ironisnya dia menganggap sikapnya sebagai hal yang sesuai dengan citra wara’.
Sebagai contohnya, misalnya seseorang enggan melakukan jihad karena yang diangkat menjadi komandannya adalah orang yang fasiq, lalu dia beranggapan bahwa sikapnya itu adalah wara’ Ketika pasukan kaum muslimin telah dibentuk oleh sang amir di bawah pimpinan panglima yang agak fasiq untuk berjihad melawan orang –orang kafir yang datang menyerang negerinya, seseorang dari yang diserbu untuk bergabung mengemukakan keengganannya dan mengatakan;” Aku tidak mau berjihad di belakang orang fasiq ini. ”Jika demikian, apakah yang bakal terjadi? Sudah jelas pasukan musuh akan mudah mengalahkan pasukan kaum muslimin dan mengacak-acak negerinya.
Salah seorang dari mereka ayahnya meninggal dunia dengan meninggalkan harta syubhat yang cukup banyak, sementara sang ayah mempunyai banyak utang. Ketika orang-orang datang menagih utang ayahnya dan meminta hak mereka, dia mengatakan: “Aku enggan membayar utang-utang ayahku dari harta yang syubhat”. “Wara’ seperti ini tiak dapat dibenarkan dan pelakunya adalah orang yang jahil.
Kalau demikian, kebodohan akan membuat seseorang meninggalkan kewajiban, kemudian menganggap sikapnya sebagai wara’. Dia enggan melakukan sholat Jumu’ah dan sholat berjama’ah di belakang para imam yang sering melakukan perbuatan bid’ah yang tidak menjurus pada kekafiran atau perbuatan yang fasiq, lalu ia menganggap sikapnya sebagai wara’. Dia pun tidak mau menerima kesaksian para hamba Allah atau mengambil ilmu dari orang ‘alim karena pelakunya masih melakukan bid’ah yang tersembunyi, lalu dia menganggap bahwa sikapnya yang tidak mau mendengar kebenaran yang harus didengarnya itu sebagai perbuatan wara’.
Di antara kaidah wara’ ialah apa yang diingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rhm. melalui ungkapannya; ”Terhadap hal-hal yang diwajibkan dan yang disunahkan tidak boleh dilakukan zuhud maupu wara’. Namun sebaliknya, jika menyangkut hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan, maka sudah sepantasnya dilakukan sikap zuhud dan wara’ terhadapnya.”
Dalam ungkapan yang lain dia mengatakan pula bahwa wara’ ialah menahan diri terhadap hal-hal yang diharamkan, atau terkadang bisa mendatangkan bahaya alias hal-hal yang subhat.
Dengan demikian, termasuk ke dalam pengertian wara’ sikap antisipasi terhadap perkara yang diharamkan dan juga terhadap perkara syubhat, sebab adakalanya perkara syubhat itu membahayakan. Karena sesunguhnya barang siapa yang menghindarkan dirinya dari perkara yang subhat, berarti dia telah membersihkan harga diri dan agamanya; dan barang siapa yang terjerumus ke dalam perbuatan yang subhat, pasti akan terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan. Perihalnya sama dengan seseorang yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah yang terlarang, tak ayal lagi dia pasti akan melanggarnya.
Adapun bersikap wara’ terhadap hal - hal yang tidak membahayakan atau tidak mengandung resiko yang membahayakan karena dibarengi oleh faktor yang positif mendatangkan manfaat atau dapat menolak bahaya lain yang positif, maka siap seperti ini sama dengan kebodohan dan perbuatan aniaya. Oleh karena itu, terhadap tiga perkara berikut tidak boleh dilkaukan sikap wara’, yaitu hal-hal yang mengandung manfaat yang memadai, kuat, lagi murni, seperti perkara yang murni diperbolekan, perkara yang disunahkan, atau perkara yang diwajibkan. Sesungguhnya sikap wara’ terhadap perkara ini sama dengan kesesatan.
Sebagaia ulama’ ada yang mengklasifikasikan wara’ terdiri dari tiga tingkatan:
1. Bersifat wajib, yaitu menahan diri dari perkara yang diharamkan, dan berlaku bagi semua orang.
2. Enggan melakukan perkara yang subhat, namun yang melakukan hal ini sedikit jumlahnya.
3. Menahan diri terhadap banyak halyang dihalalkan dan membatasinya hanya pada hal-hal yang bersifat primer. Sikap ini hanya dilakukan oleh para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada’ (pejuang agama), dan orang-orang yang shalih.
Dapat disimpulkan dari keterangan di atas bahwa wara’ ialah menahan diri terhadap beberapa hal yang diperbolehkan karena mengandung resiko akan mengakibatkan kelalaian terhadap Allah dan hari akhirat, sedang sikapnya itu sesuai dengan tuntunan sunnah. Oleh karena itu, sebagai contohnya orang yang bersangkutan tidak enggan untuk menikah dan makan.
Kalau demikian, bererti wara’ ialah menahan diri terhadap hal-hal yang diharamkan, terhadap tiap-tiap pekara syubhat, dan juga terhadap sebagian perkara halal yang jika dilakukan dikhawatirkan akan menjerumuskan diri pelakunya ke dalam perbuatan yang diharamkan. Apabila seseorang hendak menyempurnakan wara’nya karena ingin meraih derajat yang paling tinggi, maka hendaknya dia bersikap wara’ terhadap semua hal yang bukan karena Allah. Selain itu, seandainya seseorang melakuka hal yang diperbolehkan dengan niat yang baik, misalnya makan dengan niat untuk menguatkan diri dalam melakukan ketaatan, tidur dengan niat akan bangun di tengah malam untuk qiyamul lail, serta nikah dengan niat untuk memberi nafkah kepada istri dan beroleh anak, memelihara kesucian diri, dan memperbanyak kaum muslimin, dan sebagainya,tentuah hal yang boleh ini berubah statusnya menjadi ketaatan dan amal ibadah. Sehubungan dengan hal-hal seperti ini, seseorang tidak boleh bersikap wara’ terhadapnya, melainkan hanya namun bila dilakukan akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan yang diharamkan atau melalaikan hatinya dari mengingat Allah dan hari akhirat. Bersikap wara’ terhadap kasus-kasus seperti ini diperbolehkan.
Setiap kali seseorang bersikap wara’, maka semakin cepatlah dia dalam melampauai sirath nanti di hari kemudian, kerena semakin ringan beban yang memeberati punggungnya.
Derajat manusia berbeda-beda di negeri akhirat nanti sesuai dengan perbedaan derajat kewara’an mereka. Wara’ ialah menjauhi segala keburukan dengan niat yang tulus, giat menabung kebaikan, dan memelihara iman, dan juga menjauhi batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam arti kata seorang muslim harus bersikap waspada jangan sampai mendekati batasan-batasan yang tela ditetapkan oleh Allah, karena sesungguhnya sikap mendekat kepadanya justu akan mendorongnya untuk melampauinya.
Sesungguhnya Allah telah berfirman :
y7ù=Ï? ßrßãn «!$# xsù $ydqç/tø)s? 3
Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. (QS. Al Baqarah: 187)
y7ù=Ï? ßrßãn «!$# xsù $ydrßtG÷ès?
Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. (QS. Al Baqarah: 229)
Batasan-batasan ini dimaksudkan sebagai penghujung perkara halal yang dilarang untuk didekati, dan dari sisi lain batasan-batasan ini diartikan pula dengan pengertian permulaan dari perkara yang halal, dalam arti kata janganlah kalian melampauai hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah bagi kalian dan jangan pula kalian mendekati hal-hal yang diharamkan oleh Allah bagi kalian.
Faedah wara’;
- Terhindar dari azab Tuhan yang Maha Pemurah
- Terhindar dari hal-hal yang diharamkan
- Dijauhkan dari sikap membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berfaedah
- Mendatangkan kecintaan Allah
- Do’a yang bersangkutan dikabulkan
- Beroleh keridhoan dari tuhan yang maha pemurah
- Manusia berbeda – beda tingkatannya di dalam surga nanti sesuai dengan perbedaan tingkatan mereka dalam hal kewara’an.
Kesimpulan, kendali agama adalah wara’ Seorang ahli fiqih yang zuhud lagi menetapi Sunnah Nabi SAW akan memperoleh pahala yang sangat besar pada hari Pembalasan nanti.
Wates, 7 Juni 2010
[1]Penulis adalah penyuluh Agama Islam fungsional Kabupaten Kulon Progo, kuliah pascasarjana Studi Agama dan Resolusi Konflik di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, disampaikan dalam kultum di mushola Kantor Kemenag Kulon Progo
Langganan:
Postingan (Atom)



